Sunday, October 23, 2011

Bali, Pulau Seribu Franchise


Banyak orang sudah lama mengenal Bali, minimal mereka pernah mendengar tentang Bali. Sejak jaman kompeni dulu, Bali sudah menjadi salah satu tujuan kompeni-kompeni itu untuk berlibur. Alam yang indah dipadukan dengan budaya lokal yang dibalut oleh agama Hindu. Bali kemudian dikenal dengan sebutan pulau seribu Pura, karena memang terdapat banyak Pura di tanah Bali.

Bali pun kian berkembang, wisatawan mulai banyak berdatangan. Itu menyebabkan makin banyak juga investor yang menanamkan modalnya di Bali. Membangun hotel mewah, sarana rekreasi, restoran, klab malam, cafe dan sebagainya. Selain dampak positif, tentu saja kehadiran investor ini membawa serta dampak negatifnya. Diantara dampak negatif itu adalah, banyaknya tanah-tanah persawahan, perkebunan yang beralih fungsi menjadi bangunan beton, salah satunya adalah ruko. Saking banyaknya ruko, Bali pun pernah mendapat julukan pulau seribu Ruko.

Namun saat ini sepertinya Bali mempunyai julukan baru yaitu, pulau seribu waralaba. Waralaba atau yang dalam istilah kerennya franchise adalah perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak memanfaatkan dan atau menggunakan hak dari kekayaan intelektual (HAKI) atau pertemuan dari ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak lain tersebut dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan jasa. Contohnya adalah Mc Donalds, KFC, Pizza Hut, Indomaret, Alfamidi, Circle K dan yang serupa namun tak sama lainnya.

Saya akan fokuskan pembahasan ke waralaba jenis minimarket. Keberadaan waralaba minimarket yang mulai tak terkendali sangat meresahkan pedagang di pasar tradisional. Mengapa? Tentu saja karena minimarket waralaba tersebut merebut pelanggan mereka. Minimarket waralaba itu selalu terlihat lebih menarik ketimbang pasar tradisional, minimal itu menurut saya dan beberapa teman. Alasannya sederhana, di minimarket waralaba tempatnya bersih, higeinis, tidak perlu menawar harga barang dan harga yang ditawarkan juga sangan kompetitif dengan pasar tradisional. Belum lagi secara pribadi, saya merasa berbelanja di minimarket waralaba lebih terjamin keaslian suatu produk, terutama kosmetik.

Walaupun saya termasuk salah satu orang yang kerap berbelanja di minimarket waralaba, bukan berarti saya mendukung keberadaan waralaba yang sangat banyak. Selain karena akan mematikan pasar tradisional, juga karena minimarket waralaba bukanlah usaha yang hemat listrik. Pagi siang sore malam, lampu di dalam minimarket waralaba tersebut tidak pernah mati, keadaannya selalu terang benderang, apalagi yang buka selama 24 jam. Makin banyaknya minimarket waralaba artinya konsumsi listrik pulau Bali pun makin banyak. Padahal mungkin saja daya listrik satu minimarket waralaba itu bisa menerangi 2 sampai 3 rumah sederhana (saya tidak tahu pasti karena saya tidak ahli dalam dunia perlistrikan).

Semoga saja, kedepannya ijin untuk membuka bisnis minimarket waralaba ini lebih diperhatikan lagi, agar jangan sampai keberadaannya merugikan pihak lain, terutama rakyat yang mencari nafkah melalui pasar tradisional.

No comments:

Post a Comment

Feel free to SHARE this post with friends and family on your social media.

Don't forget to leave your thoughts in the comments section, I would love to hear from you :)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright leniwijayanti.com. Powered by Blogger.