Friday, October 21, 2011

Berkenalan dengan Tindak Pidana Pembunuhan dan Sanksinya

Ilustrasi

Beberapa hari terakhir ini, terlalu sering saya membaca berita tentang pembunuhan. Bahkan sempat dalam waktu empat hari ditemukan empat mayat di lokasi berbeda di Jakarta. Tragisnya satu diantara mayat tersebut tengah mengandung bayi. Apa ya yang ada dipikiran pelaku saat membunuh? Apa hal yang melatar belakanginya hingga dia membunuh? Apa dia tidak merasa bersalah? Banyak pertanyaan muncul di benak saya.

Saya sendiri jangankan membunuh manusia, menyembelih ayam saja saya tidak berani. Membayangkan si ayam merasa kesakitan ketika tenggorokannya dipotong. Iiiih, mengerikan, leher saya ikut terasa ngilu.
Dari yang sudah-sudah, ketika si pelaku yang telah tertangkap ditanya alasannya membunuh, beraragam jawaban didapat. Dari hanya karena marah, khilaf, bisikan gaib, kepergok saat melakukan tindak pidana lain, dibayar beberapa ratus ribu sampai jutaan, tidak tahan diperlakukan kasar selama ini oleh korban atau karena memang dia ingin membunuh.

Sebegitu murahkan harga nyawa manusia bagi pelaku? Memang saya akui kegiatan memanusiakan manusia itu sulit saat ini, orang-orang cenderung berfikir berdasarkan ego-nya masing-masing. Tapi haruskah membunuh? Apalagi setelah membunuh, mayatnya pun diperlakukan sememena-mena, seperti dimutilasi, dibakar atau dibuang begitu saja. Hilang sudah nuraninya sebagai manusia.

Untuk menambah informasi, mari kita lihat sanksi-sanksi tindak pidana pembunuhan dalam KUHP. Pembunuhan diatur dalam Buku II Bab XIX, kejahatan yang ditujukan terhadap nyawa orang lain. Kejahatan terhadap nyawa orang lain dibagi atas beberapa jenis, yaitu:

A. Pembunuhan Biasa
Yang dapat digolongkan ke dalam jenis pembunuhan ini misalnya seorang suami yang pulang ke rumahnya mendapati isterinya tengah berzina dengan pria lain, kemudian karena emosi, si suami menusuh pria yang berzina dengan istrinya tersebut menggunakan pisau dapur. Pembunuhan biasa diatur dalam pasal 338 KUHP yang berbunyi:
Barangsiapa sengaja merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan, dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun
B. Pembunuhan dengan Pemberatan
Diatur dalam Pasal 339 KUHP yang berbunyi:
Pembunuhan yang diikuti, disertai, atau didahului oleh kejahatan dan yang dilakukan dengan maksud untuk memudahkan perbuatan itu, jika tertangkap tangan, untuk melepaskan diri sendiri atau pesertanya daripada hukuman, atau supaya barang yang didapatkannya dengan melawan hukum tetap ada dalam tangannya, dihukum dengan hukuman penjara seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun.
Kata “diikuti” dimaksudkan diikuti kejahatan lain. Pembunuhan itu dimaksudkan untuk mempersiapkan dilakukannya kejahatan lain, contohnya X mau membunuh A, tapi A sedang bersama B, X lalu membunuh B terlebih dahulu kemudian baru membunuh A.

Kata “disertai” dimaksudkan, disertai kejahatan lain; pembunuhan itu dimaksudkan untuk mempermudah terlaksananya kejahatan lain itu, contohnya D mau mencuri di rumah E, rumah itu dijaga oleh satpam F, untuk bisa mencuri, D membunuh satpam F terlebih dahulu.

Kata “didahului” dimaksudkan didahului kejahatan lainnya atau menjamin agar pelaku kejahatan tetap dapat menguasai barang-barang yang diperoleh dari kejahatan, contohnya G menjambret tas H, H berusaha mempertahankan tasnya, lalu G menembak H agar dapat membawa lari tas jambretannya itu.

C. Pembunuhan Berencana
Diatur dalam Pasal 340 KUHP yang berbunyi sebagai berikut:
Barangsiapa dengan sengaja dan dengan direncanakan lebih dahulumenghilangkan nyawa orangkarena bersalah melakukan pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.
Kesengajaan adalah kehendak untuk berbuat dengan mengetahui unsur – unsur yang diperlukan menurut rumusan wet (de wil tot handelen bj voorstelling van de tot de wettelijke omschrijving behoorende bestandelen).

D. Pembunuhan Bayi oleh Ibunya (kinder-doodslag)
Tentang pembunuhan bayi oleh ibunya diatur dalam pasal 241 KUHP, yang berbunyi:
Seorang ibu yang karena takut akan diketahui ia sudah melahirkan anak, pada ketika anak itu dilahirkan atau tiada beberapa lama sesudah dilahirkan, dengan sengaja menghilangkan nyawa anak itu dipidana karena bersalah melakukan pembunuhan anak, dengan pidana penjara selama–lamanya tujuh tahun.
Pasal ini hanya berlaku jika anak yang dibunuh oleh si ibu adalah anak kandungnya sendiri bukan anak orang lain, dan juga pembunuhan tersebut haruslah pada saat anak itu dilahirkan atau belum lama setelah dilahirkan. Apabila anak yang dibunuh itu telah lama dilahirkan, maka pembunuhan tersebut tidak termasuk dalam kinderdoodslag melainkan pembunuhan biasa menurut Pasal 338 KUHP.

E. Pembunuhan Bayi oleh Ibunya Secara Berencana (kinder-moord)
Diatur dalam Pasal 342 KUHP yang menyatakan bahwa:
Seorang ibu yang untuk menjalankan keputusan yang diambinya karenatakut diketahui orang bahwa ia tidak lama lagi akan melahirkan anak, pada saat dilahirkan atau tidak lama kemudian daripada itu menghilangkan jiwa anaknya itu dihukum karena bersalah melakukan pembunuhan anakberencana dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan tahun.
Perbedaan Pasal 342 KUHP dengan Pasal 341 KUHP adalah  telah direncanakan lebih dahulu, artinya sebelum melahirkan bayi tersebut, telah dipikirkan dan telah ditentukan cara-cara melakukan pembunuhan itu dan mempersiapkan alat –alatnya.

F. Pembunuhan atas Permintaan Sendiri
Diatur dalam Pasal 344 KUHP, yaitu:
Barangsiapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang lain itu sendiri, yang disebutkan dengan nyata dan sungguh-sungguh, dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun
Contonya adalah pasien dengan penyakit parang yang sudah tidak memiliki harapan hidup, tidak ingin membebani keluarganya dengan biaya pengobatan penyakitnya tersebut, meminta dokter untuk memberikan suntikan mati.
G. Penganjuran agar Bunuh Diri
Diatur dalam Pasal 345 KUHP, yang menyatakan bahwa:
Barangsiapa dengan sengaja membujuk orang supaya membunuh diri, atau menolongnya dalam perbuatan itu, atau memberi ikhtiar kepadanya untuk itu, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun, kalau jadi orangnya bunuh diri
Yang dilarang adalah dengan sengaja menganjurkan atau memberi daya upaya kepada orang lain, untuk bunuh diri dan kalau bunuh diri itu benar terjadi. Jadi seseorang dapat terlibat dalam persoalan itu dan kemudian dihukum karena kesalahannya, apabila orang lain menggerakkan atau membantu atau memberi daya upaya untuk bunuh diri dan baru dapat dipidana kalau nyatanya orang yang digerakkan dan lain sebagainya itu membunuh diri dan mati karenanya. Unsur “jika pembunuhan diri terjadi” merupakan “bijkomende voor-waarde van strafbaarheid”, yaitu syarat tambahan yang harus dipenuhi agar perbuatan yang terlarang/dilarang tadi dapat dipidana.

No comments:

Post a Comment

Feel free to SHARE this post with friends and family on your social media.

Don't forget to leave your thoughts in the comments section, I would love to hear from you :)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright leniwijayanti.com. Powered by Blogger.