Friday, October 14, 2011

Mencari Mati di Negeri Orang

Pagi hari mengawali dengan secangkir kopi sambil membaca berita, ada satu berita menarik, judulnya TKW Divonis Mati, Kemenlu Lobi Gubernur di Mekkah‎. Wah ada apa lagi nih? TKW yang katanya pahlawan devisa akan kena hukuman mati lagi. TKW itu bernama Tuti Tursilawati, Tuti menjadi TKW ke Arab Saudi pada 5 September 2009 melalui PJTKI PT Arunda Bayu. TKW asal Majalengka tersebut divonis bersalah oleh pengadilan Mekkah, dalam kasus pembunuhan terhadap majikannya yang bernama Suud Malhaq Al Utaibi di Kota Thaif. Peristiwa pembunuhan terhadap Suud terjadi 11 Mei 2010 lalu. Tuti memukul majikannya dengan kayu hingga tewas karena pelecehan seksual yang dilakukan majikannya.
Mungkin karena iming-iming penghasilan yang besar, banyak dari warga Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan sangat tertarik untuk menjadi TKW. Bayangkan saja, dengan ijazah SMA, bisa bekerja sebagai pelayan restoran atau pembantu rumah tangga dengan bayaran yang melebihi gaji S1 di Indonesia. Malah ada yang menjanjikan bahwa yang bersangkutan akan mendapat upah sekitar limajuta rupiah perbulan. Sangat menarik, bukan?

Namun sayang sekali, banyak oknum yang memanfaatkan keluguan calon TKW itu. Ada yang hanya mengobral omong kosong (setelah meminta iuran pada calon TKW, dia tinggal kabur), ada yang menjual TKW sebagai pelacur, dan masih banyak lagi. Kasihan.

Setelah bisa bekerja di negara tujuan pun, TKW bukan berarti bisa tenang bekerja dan menerima upah seperti yang dijanjikan. Sering diantara mereka mendapatkan majikan yang kasar, apalagi bila si majikan merasa berhak melakukan apa saja ke TKW karena mereka sudah membayar mahal pada penyalur. Setiap saya membaca berita tentang penyiksaan TKW, saya tidak habis pikir, ternyata ada manusia yang tidak berkemanusiaan. Menyetrika kulit, menyulut dengan putung rokok, memperkosa, bekerja hampir 24 jam, menyayat dengan benda tajam, saya kira itu hanya ada di film atau sinetron, ternyata di kehidupan nyata ada.

Ketika TKW tersebut melawan, hingga menyebabkan majikan terluka atau bahkan tewas, TKW tersebut akan dijatuhi hukuman yang biasanya adalah hukuman mati. Ckck tragis ya? TKW ibaratnya memakan buah simalakama, kalau dimakan, dia tersiksa, kalau tidak dimakan dia dihukum mati.

Ada yang bilang, TKW itu disiksa katena dia bodoh tidak bisa mengerjakan apa yang diminta majikannya, mungkin karena tidak punya keterampilan khusus. Bila memang merasa tidak mampu, tidak usah nekat menjadi TKW, untuk apa mencari mati di negeri orang? Mending buka lapangan pekerjaan di negeri sendiri, bisa bantu banyak orang juga. Membangun usaha rumahan dengan beberapa orang dan mengajukan pinjaman, bukannya di beberapa bank ada program pinjaman untuk UKM?

Tapi diantara kisah pilu TKW ada banyak juga kisah TKW yang sukses, mungkin itu disebabkan dia mempunya skill yang memadai, disalurkan melalui agen resmi dan mendapat majikan yang baik. Saran saya, bila memang merasa tidak cukup mampu untuk menjadi TKW lebih baik mengurungkan niatan mengadu nasib di negeri orang, daripada bukannya menjadi untung, malah menjadi buntung.

No comments:

Post a Comment

Feel free to SHARE this post with friends and family on your social media.

Don't forget to leave your thoughts in the comments section, I would love to hear from you :)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright leniwijayanti.com. Powered by Blogger.