Tuesday, November 01, 2011

Not For Sale

Saya bukan penggemar film Indonesia, tapi entah mengapa malam ini saya ingin menontonnya. Saya lalu menjelajahi isi netbook saya, ada banyak film memang, tapi didominasi film luar negri. Pilih sana, pilah sini, akhirnya pilihan jatuh pada sebuah film Indonesia dengan tema remaja yang judulnya NOT FOR SALE, bukan film baru memang, film ini dirilis lebih dari setahun silam, Juni 2010. Haha saya menjadi merasa tidak up-to-date karena baru menilai film ini sekarang, anggaplah saya mengambil judul film secara random untuk saya tonton kemudian tanggapi dengan tidak profesional.
.
Film ini diperankan oleh Arumi Bachsin, Okie Calerista, Chindy Anggrina dan Leylarey Lesesne. Secara singkat, film ini menceritakan tentang kehidupan remaja yang berantakan. May minggat dari rumah karena permasalahan dengan keluarganya setelah dia dikeluarkan dari sekolah. Shasi adalah seorang anak yang mempunyai ibu doyan berondong, terbiasa melihat seks bebas di rumahnya, dengan dalih membantu temannya, dia menjadi perantara antara temannya dengan om-om senang. Dessy, anak sulung yang mempunyai enam orang adik, dia menjadi tulang punggung keluarga sebagai penari striptis, setelah ayahnya kabur entah kemana. Sedangkan Andhara adalah seorang bartender disebuah club, dia pecandu obat-obatan dan juga seorang lesbian.



Seperti biasanya, film bioskop ini pun bagi saya tak jauh beda dengan FTV, untungnya saya menonton di  netbook bukan di bioskop. Walaupun saya mungkin tidak bisa membuat film yang lebih hebat dari ini, namun tak ada salahnya kan saya meberi pendapat yang mungkin sedikit buruk.

Saya tidak menangkap pesan yang disampaikan melalui film ini, padahal setelah saya googling, ternyata film ini dibuat agar remaja Indonesia tidak menjual keperawanannya, karena keperawanan bukan untuk di jual, tapi diberikan kepada orang yang benar-benar disayangi. Berhubung yang dikatakan adalah "kepada orang yang benar-benar disayangi", saya anggap itu termasuk orang yang bukan suami alias cuma disayangi saja (agak kurang bener juga pesan yang disampaikan).

Walaupun dalam beberapa dialog ditekankan bahwa dunia "gelap" itu bukan jalan keluar yang bijak untuk mendapatkan uang, namun pada kenyataannya, itu semua terbantahkan dengan maunya si May menjual perawannya. Tidak ada pergolakan batin yang berarti, pasrah saja gitu, dijual demi mendapat uang 30 juta.

Dari awal hingga akhir begitu banyak adegan merokok, padahal di iklan rokok saja dilarang menggunakan adegan merokok, malah kadang melenceng jauh dari merokok. Tapi dalam film ini seolah-olah mempertontonkan adegan merokok adalah hal lumrah. Target penontonnya adalah remaja, mempertontonkan adegan remaja merokok, bukannya akan membuat penonton remaja jadi ingin mencoba rokok? Harus diingat bahwa pola pikir remaja berbeda dengan mereka yang sudah awal dewasa. Remaja cenderung ingin mencoba segala hal baru, walaupun sebenarnya dia tahu itu salah.

Pada akhir ceritanya, tiga diantara empat pemeran utama tewas. Andhara tewas karena overdosis, Shasi tewas karena ditusuk "mantan" temennya yang pernah dijual dan May tewas karena menjatuhkan diri dari jembatan penyebrangan. Kenapa akhir ceritanya harus menunjukkan kelabilan emosi sehingga bunuh diri dianggap jalan yang tepat? Mungkin lebih baik bila akhir cerita mereka semua dibikin tobat dan menjauhi dunia hitam itu. Menatap masa depan dengan lebih baik.

Sayang sekali, pesan positif dari film ini hanya satu dan itu terkesan dipaksakan diantara banyaknya pesan negatif dalam film ini. Bila remaja Indonesia terus-terusan diracuni film seperti ini, jangan salahkan bila beberapa diantara mereka akhirnya meniru. Banyak orang berdalih, keberadaan film seperti ini harus disambut dengan baik karena juga menjukkan bangkitnya perfilman nasional, tapi bagi saya, film semacam ini ibarat racun, yang membunuh secara perlahan-lahan.

Bangkitkan perfilman nasional itu dengan kualitas film yang baik bukan dengan kuantitas film banyak tapi bermutu rendah.

1 comment:

  1. setuju,,pendapat saya sama makanya males klo mo liat film indo.

    ReplyDelete

Feel free to SHARE this post with friends and family on your social media.

Don't forget to leave your thoughts in the comments section, I would love to hear from you :)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright leniwijayanti.com. Powered by Blogger.