Wednesday, November 09, 2011

Bali Tanpa Pencakar Langit


 
Ilustrasi Gedung Pencakar Langit
Sudah pernah mengunjungi Bali? Bagi yang sudah pernah, apakah pernah melihat bangunan pencakar langit seperti gambar di samping ini selama sedang berada di Bali? Pasti jawabannya tidak, karena memang di Bali sampai sekarang terdapat Perda yang tidakmemperbolehkan membangun gedung pencakar langit.


Sejak jaman dahulu kala, walaupun tidak ada aturan secara tertulis, tapi bangunan di Bali tingginya dibatasi, tidak boleh melebihi tinggi pohon kelapa. Namun pada awal tahun 1960an, aturan itu sempat terusik dengan mulai dibangunnya Hotel Bali Beach (sekarang Inna Grand Bali Beach). Pembangunan Hotel Bali Beach terlanjur direncanakan dan dilaksanakan sejak awal tahun 1960-an. Akhirnya menjadi kenyataan, hotel ini diresmikan tanggal 1 November 1966. Inilah satu-satunya hotel atau bangunan di Bali yang tingginya melebihi 15 meter.

Hotel Inna Grand Bali Beach


Sejak itu pejabat Pemerintah Daerah dan tokoh masyarakat Bali melakukan restropeksi diri. norma-norma bangunan berarsitektur tradisional Bali, asta kosala kosali dan lain-lain, dikaji kembali lewat forum-forum terbuka. Banyak hal yang menjadi dasar pertimbangannya. Aspek kesucian dan kepercayaan masyarakat setempat menjadi salah satu pertimbangan yang mendasar. Persoalan kesucian bukan hanya dilihat dari aspek horizontal (jarak bangunan), tetapi juga aspek vertikal (tinggi bangunan).

Pertimbangan penting lainnya adalah faktor daya dukung fisik Bali. Di samping itu ada pertimbangan, keuntungan yang didapat dibandingkan kerusakan yang akan ditimbulkan yang berdimensi masa depan. Pertimbangan kesucian dan kepercayaan berbaur dengan pertimbangan logika dan rasio. Akhirnya pada tahun 1974 dibuatlah Perda yang mengatur ketentuan hukum tentang batas tinggi bangunan yaitu 15 meter. Hingga sampai saat ini bangunan tinggi di Bali memiliki maksimal empat lantai, tentu saja kecuali Hotel Inna Grand Bali Beach sesuai dengan peraturan terakhir, yaitu Perda nomor 16 Tahun 2009 tentang RTRW Bali.

Seiring berjalannya waktu, pariwisata yang kemudian berkembang pesat, membuat Bali, khususnya daerah bali Selatan menjadi sesak. Selain karena pertumbuhan penduduk asli Bali, juga disebabkan oleh makin banyaknya pendatang yang mengadu nasib di Bali. Karena ada aturan batasan maksimal tinggi bangunan, menyebabkan bangunan melebar ke samping, hingga makin banyak sawah beralih fungsi menjadi kediaman.

Hal ini yang mungkin menyebabkan Bapak Mangku Pastika selaku Gubernur Bali  (saat saya menulis ini) pernah berkeinginan merevisi perda tinggi bangunan, sekitar setahun silam. Namun tentu saja keinginan Beliau mendapat pro dan kontra. Saya sendiri berada pada pihak kontra. Bukan karena saya lebih suka melihat sawah yang beralih fungsi daripada perda tersebut dirubah, namun masih ada cara lain yang bisa ditempuh.

Saya kira, dengan membatasi jumlah pendatang yang masuk ke Bali dapat membantu mengurangi alih fungsi lahan produktif menjadi hunian. Mengutamakan tenaga kerja lokal akan lebih bermanfaat. Saat ini angka pengangguran di Bali cukup tinggi (saya salah satunya haha). Kedatangan pendatang dari luar Bali yang seolah tidak terkendali hanya akan menimbulkan dampak negatif. Pintu masuk di Bali sangat mudah ditembus, itu sudah menjadi rahasia umum.

Perda tentang tinggi bangunan masih sangat relevan untuk diterapkan, selain untuk menghormati adat istiadat lokal juga untuk mempertahankan ciri khas Bali. Semoga saja kedepannya, Pemerintah Daerah Bali dapat mencari solusi untuk mengatasi masalah peralihan lahan yang dapat merangkul semua pihak dan tanpa mengesampingkan budaya lokal.

12 comments:

  1. Sangat Informatif artikelnya ni Lenny....

    ReplyDelete
  2. Ini baru anak bangsa & anak daerah..yg mnghargai budayanya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. :D tulisan ini dibuat gara-gara beberapa temen nanya kenapa di Bali nggak ada bangunan tinggi

      Delete
  3. langkah lain yang bisa dilakukan antara lain "memindahkan" konsentrasi pendatang ke Bali wilayah lain.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. udah ada bisik-bisik tentang itu, jadi katanya nanti ibu kota provinsi dipindah ke Singaraja (Bali Utara), trus akan ngebangun bandara Internasional juga di Bali Utara. Biar pembangunannya merata. Apalagi sekarang kan turis asing lebih suka wisata ke daerah utara daripada selatan. cuma ini masih bisik-bisik ga jelas, banyak yang ga setuju juga

      Delete
  4. kalo ane sih suka dibali banyak bangun hotel yang tinggi tapi dibuat tempat khusus , maksudnya gak seenaknya aja membangun.. misalnya di daerah bibir pantai... kalo dibiarkan aja lama2 ntar area sawah yang indah dibali bakalan makin sempit..

    ReplyDelete
    Replies
    1. solusinya bukan mengijinkan pencakar langit tapi stop pembangunan hotel :) bali gak butuh hotel lagi.

      Delete
    2. stop apaan? hotel? itu tempat makan orang bali? pariwisata di cukupkan sekian orang bali di suruh jadi apa? petani? mana lahannya?

      Delete
  5. saya yang pro untuk mengubah peraturan tinggi gedung, namun tetap ada batasan contohnya, bangunan tinggi hanya boleh di daerah tertentu saja.

    ReplyDelete
  6. Pantesan aja, tiap bali masuk tv kok gak ada gedung pencakar langit. Padahal bali khan sudah jadi kot internasional.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. Ini juga alasan di Bali gak ada flyovers, yang ada underpass aja

      Delete

Feel free to SHARE this post with friends and family on your social media.

Don't forget to leave your thoughts in the comments section, I would love to hear from you :)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright leniwijayanti.com. Powered by Blogger.