Sunday, December 11, 2011

Gelar Sarjana Kehormatan untuk sang Aktivis

Sondang Hutagalung, itu nama pria berusia 22 tahun yang beberapa hari terakhir ini menjadi bahan pembicaraan. Terkenal karena aksi bakar dirinya di depan istana hingga menyebabkan dia menderita luka bakar yang sangat serius dan akhirnya meninggal dunia setelah mendapat perawatan di rumah sakit.
Menurut Staf Divisi Advokasi Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras), Chrisbiantoro, Sondang tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (UBK) angkatan 2007. "Dia sedang menyusun skripsi," kata Chrisbiantoro, dalam keterangan pers di kantornya, Jumat 9 Desember 2011.

Sondang selama ini dikenal aktif di organisasi pergerakan mahasiswa. Dia menjabat sebagai Ketua Bidang Organisasi Himpunan Aksi Mahasiswa Marhaenis Untuk Rakyat Indonesia (Hammurabi) dan dia juga termasuk aktivis "Sahabat Munir". Sondang sudah 1,5 tahun bergabung di komunitas ini.

Karena aksi bakar dirinya, UBK memberikan gelar Sarjana Kehormatan pada mahasiswa fakultas hukum tingkat akhir itu, Sondang adalah mahasiswa yang pintar karena memiliki IPK 3,7. Namun, entalah, menurut saya pemberian gelar Sarjana Kehormatan itu kurang tepat. Mengapa?

Pertama, kita tidak pernah mengetahui alasan Sondang melakukan aksi bakar diri di depan Istana Merdeka, walaupun dia seorang aktivis bukan berarti segala tindakannya dia lakukan dalam kapasitasnya sebagai aktivis. Sondang pergi tanpa meninggalkan pesan tentang mengapa dia melakukan aksi bakar diri. Jelek dikata, bagaimana kalau Sondang melakukannya hanya karena dia ingin dikenal sebagai seorang aktivis yang akan selalu dikenang oleh teman-teman seperjuangannya?

Kedua, pemberian gelar Sarjana Kehormatan ini menurut saya malah dapat memicu makin banyaknya aktivis yang akan melakukan aksi bakar diri atau aksi lainnya yang membahayakan diri. Kecuali bila Sondang (tidak sengaja) tewas dalam sebuah insiden, seperti dalam sebuah bentrok untuk menggulingkan pemerintahan yang otoriter.

Ketiga, bagi saya, tindakan Sondang tidak berarti banyak, toh setelah aksinya, koruptor tidak lantas menjadi jera, yang korupsi tetap akan korupsi. Mungkin lebih baik apabila Sondang memilih berjuang dengan cara masuk ke dalam parlemen, lembaga hukum atau menjadi the next president, apalagi dia adalah mahasiswa cerdas.

Ya, apapun itu, bagaimanapun kita menanggapi, toh kenyataannya Sondang Hutagalun sudah meninggal dunia. Kita doakan saja agar dia mendapatkan tempat selayaknya apa yang harus dia dapatkan dan agar perjuangannya tidak menjadi sesuatu yang sia-sia, hanya bergaung beberapa minggu selebihnya terlupakan dimakan waktu dan korupsi tetap meraja lela.

Saya berduka karena tewasnya satu anak bangsa yang cerdas yang mungkin masih memiliki sedikit nurani untuk memperbaiki bangsa ini, sayangnya dia menempuh jalan yang kurang tepat (bagi saya). Tapi semoga tidak ada lagi Sondang Sondang yang lain, yang berfikir sangat pendek dengan melakukan aksi yang membahayakan dirinya dan juga mungkin orang lain. Mari kita perbaiki bangsa ini dengan cara yang benar, dengan cara yang lebih intelektual dan lebih pasti.

R.I.P Sondang Hutagalung (1989-2011)

3 comments:

  1. saya rasa itu bntuk kekecewaan almh.sondang dgn pemerintah saat ini...kami jga kecewa knp pmerintah kita g mampu basmi koruptor,,,sampai kapan janji2 itu ditepati apakah kami msh bisa menikmati atau smpai ank cucu kami masih tetap begini,,,

    ReplyDelete

Feel free to SHARE this post with friends and family on your social media.

Don't forget to leave your thoughts in the comments section, I would love to hear from you :)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright leniwijayanti.com. Powered by Blogger.