Friday, February 10, 2012

He is my Choi[ce]!!!

Awalnya aku tidak pernah menyangka akan menjalin hubungan dengan seseorang yang berbeda kewarganegaraan denganku. Walaupun saat aku muda dulu (cieee berasa tua) aku pernah sesumbar akan mencari pacar seorang pria bule (bukan Buleleng apalagi Bulenan). Tapi seiring bertambahnya umur, aku pun melupakan niatku itu.

Aku pernah berpacaran dengan pria berbeda agama, berbeda budaya dan juga berbeda provinsi. Semuanya cukup sulit untuk dilalui, menyamakan pola pikir yang terbentuk di budaya dan pola masyarakat yang berbeda. Pertengkaran sering terjadi, sesuatu yang aku anggap lucu ternyata menyebalkan baginya dan begitu pula sebaliknya. Terlalu banyak masalah, terlalu banyak air mata, terlalu banyak pertengkaran.


Setelah perpisahan dengan seorang lelaki dari Sumatera sana, aku mulai mencari pria di sekitarku, memilih satu per satu. Tapi ternyata tidak perlu waktu banyak bagi mereka untuk sukses membuat aku ilfeel (kehilangan rasa tertarik) pada mereka. Dari yang suka judi, suka mabuk-mabukan, otak mesum dan lain sebagainya. Oke katakanlah aku pemilih, tapi kayaknya itu wajar karena aku mencari pria bukan hanya untuk pacaran, udah bukan jamannya lagi.

Jujur saja aku ingin mencari seorang suami, pria yang serius dan benar-benar mau menghabiskan sisa hidupnya denganku. Tapi aku juga tidak mau gegabah mempertaruhkan sisa hidupku pada pria yang salah. Aku akan mencoba menjalin hubungan dengan pria yang aku anggap serius.

최익환
Kemudian muncul seorang pria dari negeri ginseng sana, Korea Selatan bernama Choi Ik Hwan (최익환) atau biasa aku panggil Ekany Oppa. Awalnya aku hanya ingin mempraktekan kemampuan bahasa Inggris yang sangat pas-pasan. Berbekal modal nekat dan juga google translate kami berkomunikasi. Aku tidak tau umur dia berapa, tapi aku perkirakan dia sudah cukup tua dan ternyata tebakanku benar. Kami selisih 13 tahun.

Dari sekedar kenalan, berlanjut menjadi teman curhat. Aku menceritakan mimpi-mimpi ku tentang masa depan, tentang bagaimana aku ingin membentuk rumah tangga, tentang kapan aku ingin berumah tangga. Yang akhirnya entah bagaimana ceritanya kami menjadi sangat dekat, aku menjadi terbiasa dengan perhatian-perhatiannya, dengan ucapan selamat paginya.

Dia berucap akan terbang ke Bali, aku tidak percaya. Karena jarak antara Bali dan Korea itu sangaaaaaat jauh, lebih dari 5.000 kilometer dan tentu saja membutuhkan uang yang lumayan banyak untuk membiayai perjalannya. Walaupun tidak percaya tapi aku deg-degan juga dibuatnya dan ternyata dia benar. Dia benar-benar datang ke Bali beberapa hari lalu.

Dalam waktu yang sangat terbatas kami pedekate, saling mengenal satu sama lain. Aku berusa mempelajari karakternya dan yang dapat aku nilai, dia sangat menjagaku dari segala hal, menggenggam tanganku ketika berjalan, memeluk pundakku ketika menyeberang jalan, sepertinya dia ingin memastikan aku benar-benar aman. Dan memang aku merasa aman, selain karena perlakuannya juga karena dia memiliki badan yang lebih tinggi dariku hingga memberikan efek psikologis bahwa aku memang aman.


Tapi dia tidak sempurna, ada beberapa hal yang kurang aku sukai tapi memangnya ada ya di dunia ini manusia yang sempurna? Aku tidak akan menjabarkan apa saja yang tidak aku sukai, cukup aku simpan dalam pikiranku saja. Toh itu tidak penting lagi.

Ada sedikit ketakutan yang aku rasakan, karena dia adalah pria asing, pria dari negara antah berantah yang menawarkan berbagi sepotong masa depannya denganku. Belum lagi kekhawatiran apakah kami akan mendapat restu dari orang tuaku. Walaupun kemudian ketika aku ceritakan pada Ibu ku, ternyata Beliau tidak menunjukkan reaksi negatif. Aku anggap Beliau merestui ku untuk mengenal Ekany Oppa lebih jauh, bukan sebagai teman tapi sebagai kekasih.

Aku akan menjalani hidupku sekarang dengan sebaik-baiknya, akan mempercayai perkataan Ekany Oppa, berpikir positif kepadanya, belajar bahasa Korea dengan cepat sesuai permintaan Ekany Oppa dan menunggu waktu yang membuktikan perkataannya akan menjadi nyata atau hanya bualan.

Terakhir, kepada mantanku yang mungkin membaca ini. Maafkan aku karena tidak sanggup lagi menantimu. Walaupun hubungan kita telah berakhir cukup lama tapi aku masih sering merasa tidak enak hati. Aku tidak ingin menyakiti perasaan siapapun tapi aku lebih tidak ingin menyakiti hatiku sendiri. Aku juga ingin kamu bahagia di sana dengan wanita yang lebih baik dariku, dengan wanita yang lebih mengerti kamu, dengan wanita yang dekat denganmu hingga bisa memelukmu setiap kamu merindukannuya. Dan buat yang udah baca, doain kita semua bahagia ya J


Dear my ex: thank you so much for your lesson
Dear my Choi: I'm ready :)
Dear God: thank you for Your another chance

6 comments:

Feel free to SHARE this post with friends and family on your social media.

Don't forget to leave your thoughts in the comments section, I would love to hear from you :)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright leniwijayanti.com. Powered by Blogger.