Friday, February 10, 2012

Potret Buram Cewek ABG di Bali

Beberapa hari belakangan ini, masyarakat Bali dibuat resah dengan beredarnya sebuah video kekerasan yang dilakukan oleh tujuh orang remaja putri. Dalam video yang berdurasi 5 menit 37 detik tersebut terlihat seorang korban (KA, 16 tahun) mengenakan pakaian ungu dilecehkan oleh teman-temannya, yaitu Ni Kadek AO (14 tahun), Ni Putu MO (17 tahun), Ni Komang DP (17 tahun), MV (16 tahun), RA (15 tahun), MD (15 tahun) dan WL (15 tahun).

Video dibawah ini penuh adegan kurang pantas, disarankan untuk tidak menontonnya bagi mereka yang masih dibawah umur dan tidak kuat menonton adegan kekerasan.


Video diawali dengan percakapan antara KA dan tujuh remaja putri lainnya, diguga permasalahan berawal dari KA diduga menggelapkan uang hasil penjualan helm Rp. 200.000,-. MV (remaja berbaju hijau) terlihat memukul KA hingga tiga kali sembari mengucapkan kata-kata kasar dalam bahasa Bali. Tak puas sampai di sana, Ni Putu MO (remaja kurus yang menaruh kacamata di kepalanya) menggunting baju KA menjadi dua, yang disusul dengan remaja lainnya ikut menggunting celana KA hingga (maaf) celana dalamnya terlihat.

Dilanjutkan dengan aksi menggunting rambut KA, saat menggunting rambut KA terdengar salah satu pelaku berteriak “Masih untung rambut kamu yang dipotong, daripada nyawa kamu!”. KA terlihat mulai menagis namun para pelaku tidak berhenti malah mulai memukul dan menendang KA hingga terjatuh. Saat itulah terdengan suara seorang ibu berteriak. Seketika itu juga para pelaku bergegas kabur meninggalkan korban yang sudah tidak berdaya.

Saat ini Mapolresta Denpasar telah menetapkan 5 orang sebagai tersangka yaitu Ni Kadek AO, Ni Putu MO, Ni Komang DP, MV dan RA, 2 orang masih berstatus saksi yaitu MD dan WL sedangkan perekam video tersebut masih belum ditemukan walaupun blackberry yang digunakan untuk merekam video sudah diamankan polisi.

Korban dan para pelaku kekerasan tergabung dalam satu geng motor bernama Cewek Macho Perfomance (CMP). CMP beranggotakan 30 orang walaupun anggota yang aktif hanya sebagian saja. Ni Putu MO adalah ketua CMP, sebelumnya pada April 2011 dia pernah diproses di Mapolresta Denpasar karena menganiaya teman sekolahnya. Proses hukumnya tidak dilanjutkan karena adanya perdamaian antara korban dan pelaku namun MO kemudian putus sekolah dan berniat melanjutkan kembali di tahun 2012. Niatan melanjutkan sekolah harus ditunda karena MO terjerat kembali dalam tindak kekerasan.

Posisi Wakil Ketua CMP diduduki oleh MV, kabarnya MV dikenal sadis dan memiliki banyak tatto. Dia tidak segan-segan memukul anggota CMP yang tidak mau mengikuti aturan. Pernah ada anggota yang tidak mau merokok, langsung dihajar oleh MV.

Tidak hanya Ketua dan Wakil Ketua yang dikenal nekat, anggotanya pun sama nekatnya. Mereka meminta untuk ditetapkan dalam satu sel. Tidak ada raut penyesalan di wajah mereka, mereka malah asik tertawa cekikikan walaupun mereka diancam hukuman maksimal 5 tahun (Pasal 80 UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak juncto Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan).

CMP tergabung karena memiliki latar belakang yang sama, mereka sama-sama putus sekolah dan memiliki keluarga broken home. Memiliki waktu yang cukup banyak untuk nongkrong membuat mereka terjerumus dalam pergaulan yang salah. Merasa sama-sama kurang mendapat perhatian membuat mereka merasa memiliki nasib yang sama dan berusaha menguatkan satu sama lain dengan cara yang salah. Apalagi didukung oleh keluarga yang super sibuk sehingga kurang mampu mengontrol pergaulan putri mereka.

Kehidupan remaja yang memprihatinkan, disaat teman sebaya mereka berusaha menggapai mimpi di dunia pendidikan, tapi mereka sibuk memupuk jiwa pemberontakan. Saya belum menjadi Ibu sehingga saya tidak tahu bagaimana sulitnya mempunyai anak usia remaja. Tapi suatu saat nanti saya akan menjadi seorang Ibu dan saya berharap saya mampu menjadi seorang ibu yang baik bagi anak-anak saya hingga mereka bisa menjadi manusia yang lebih baik dari saya.

Dalam beberapa kasus, remaja yang terlibat masalah hukum kemudian malah menjadi “calon penjahat” ketika dewasa, karena mereka mendapat “pelajaran” dari senior mereka di Lapas. Namun semoga saja para pihak yang berwenang mampu menyelesaikan masalah ini sehingga bisa menyadarkan para pelaku untuk tidak melakukan tindak pelecehan lagi dikemudian hari.

2 comments:

Feel free to SHARE this post with friends and family on your social media.

Don't forget to leave your thoughts in the comments section, I would love to hear from you :)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright leniwijayanti.com. Powered by Blogger.