Wednesday, May 23, 2012

Indonesiaku Sayang, Indonesiaku Malang


Kalian masih ingat tidak pelajaran kita waktu SMP atau SMA dulu tentang Zaman penjajahan Belanda terhadap negeri Indonesia yang tercinta ini. Siapa yang menyangka kalau penyebab khususnya adalah sebuah tulisan dari buku yang ditulis oleh Jan Huygen van Linshoten yang berjudul “Itinerario naer Oost ofte Portugaels Indien

Jan Huygen van Linshoten adalah orang Belanda yang sudah lama bekerja pada pelaut-pelaut Portugis. Pada awalnya yang berlayar ke kawasan Asia Tenggara hanya pelaut Portugis, mereka tidak pernah memberitahukan jalur pelayarannya kepada bangsa manapun juga. Tapi semua itu terbongkar dalam buku “Itinerario near Oost Portugaels Indien” pada tahun 1595. Tentu saja buku ini laku keras di Eropa, tapi Portugis sama sekali tidak menyukainya.
Para pengusaha dan penguasa Belanda membangun dan menyempurnakan armada kapal-kapal lautnya dengan segera, agar mereka juga bisa menjarah dunia selatan yang kaya raya, dan tidak kalah dengan kerajaan-kerajaan Eropa lainnya.

Pada tahun 1595 Belanda mengirim satu ekspedisi pertama menuju Nusantara yang disebutnya Hindia Timur. Ekspedisi ini terdiri dari empat buah kapal dengan 249 awak dipimpin Cornelis de Houtman, seorang Belanda yang telah lama bekerja pada Portugis di Lisbon. Lebih kurang satu tahun kemudian, Juni 1596, de Houtman mendarat di pelabuhan Banten yang merupakan pelabuhan utama perdagangan lada di Jawa, lalu menyusur pantai utaranya, singgah di Sedayu, Madura, dan lainnya.

Dari sejarah singkat di atas sangat tampak jelas bagaimana melimpahnya kekayaan di bumi ini, sehingga menarik dunia untuk datang, lalu berdagang, yah walaupun pada akhirnya ada yang menjajah.

Tidak akan ada yang memungkiri potensial alam yang dimiliki Indonesia, bahkan Koes Plus pun dulu mengabadikannya lewat lagu Kolam Susu, yang menggambarkan betapa mudahnya hidup di Indonesia. Hanya bermodal kail dan jala, ikan dan udang bisa diperoleh. Bahkan tongkat kayu dan batu pu bila ditanam jadi tumbuhan. Karena itu orang bilang tanah kita itu tanah surga.

Namun pada kenyataannya, tanah kita tidak lagi menjadi surga, bahkan bagi beberapa orang sudah menjadi neraka. Kemiskinan dimana-mana, kelaparan dimana-mana, kriminalitas mrajalela, pengangguran meningkat dan yang paling parah korupsi yang seperti sudah tidak bisa dikendalikan lagi.

Bila tanah kita kaya raya, kenapa kita masih mengimpor beras? 
Bila tanah kita subur, kenapa banyak yang kelaparan? 
Bila tanah kita ada emas, berlian atau batu berharga lainnya, kenapa masih banyak pengemis?

Seharusnya tidak ada kemiskinan di negri yang kaya apalagi kita sudah merdeka. Yah tapi kita juga tidak bisa memungkiri bahwa negri ini juga “kaya” akan orang-orang yang tamak. Pejabat yang mengatasnamakan rakyat tapi mengutamakan kepentingan diri sendiri.

Dan yang membuat saya sangat heran adalah ketika bermunculan “orang baik” yang memang ingin memajukan bangsa ini, mereka malah disingkirkan dengan berbagai macam cara, entah diracun, ditembak, diculik atau pengusiran halus dengan setumpuk skandal politik.

Apa memang orang-orang di atas sana sudah tidak punya nurani? Apa memang harus menjadi “jahat” dulu baru kita bisa menjadi pejabat? Apa harus menunggu kita mendapat bencana dulu baru orang-orang itu sadar?

2 comments:

  1. semoga bencana cepat datang itu doaku sebagai orang yg sudah muak hidup dinegara ini.. Maaf klo berlebihan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha mungkin emang perlu bencana dulu sebelum bangkit ya

      Delete

Feel free to SHARE this post with friends and family on your social media.

Don't forget to leave your thoughts in the comments section, I would love to hear from you :)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright leniwijayanti.com. Powered by Blogger.