Tuesday, May 29, 2012

MLM: Teman Adalah Prospek


MLM atau Multi Level Marketing adalah satu bentuk bisnis yang ditawarkan beberapa pihak. Kita diajak berjualan sembari mengajak orang lain untuk menjadi distributor produk yang sama. Cara memikatnya dengan memberikan bocoran berapa persen bonus yang mereka dapatkan saat menjual suatu produk, belum lagi bonus yang di dapat dari hasil jualan downline-nya.

Sistem penjualan MLM memanfaatkan konsumen sebagai tenaga penyalur secara langsung. Harga barang yang ditawarkan di tingkat konsumen adalah harga produksi ditambah komisi yang menjadi hak konsumen karena secara langsung telah membantu kelancaran distribusi.
Dalam sistem keanggotaannya menggunakan promotor dan bawahan. Promotor atau upline adalah anggota yang menjadi anggota terlebih dahulu sedangkan bawahan atau downline adalah anggota baru yang mendaftar atau direkrut oleh sang promotor.

MLM bukan satu bisnis yang salah memang. Sebagian orang sukses dan menjadi kaya berkat bergabung dalam MLM. Tanpa perlu mempunyai etalase atau menyewa sebuah kios untuk menjajakan barang dagangannya. Cukup membeli katalog yang dikeluarkan secara berkala, sebulan sekali, dua bulan sekali atau beberapa waktu sekali, tergantung pada jenis MLM-nya.

Aku pernah mendatangi seminar MLM, diundang salah satu teman lamaku. Aku datang ke seminar MLM itu memang karna penasaran, apalagi temanku itu berkata bahwa penghasilannya saat itu sudah menyentuh angka jutaan rupiah. Keren kan? Masih kuliah tapi penghasilan jutaan.

Selesai seminar, aku mendaftar menjadi anggota MLM itu, kalau tidak salah biayanya hanya 10.000 rupiah. Aku pikir ya tidak ada salahnya, toh biaya pendaftarannya murah. Apalagi setelah “konsultasi” pada mereka yang telah sukses mereka menceritakan bahwa keluarga dan sahabat adalah  prospek.

Aku bisa berjualan pada teman dan keluarga sekaligus merayu mereka agar mau bergabung dalam tim. Saat itu aku tidak merasa ada yang salah dengan itu, tapi sekarang aku berpikir mengkomersilkan pertemanan dan kekeluargaan itu kurang tepat. Itu aku rasakan setelah cukup lama hengkang dari bisnis MLM.

Alasannya sederhana, ketika posisiku berubah dari pelaku MLM menjadi target MLM aku sedikit merasa terganggu. Aku menginginkan persahabatan, berbincang dengan para teman membahas berbagai hal. Namun aku pernah mengalami hal yang kurang menyenangkan. Ada seorang teman yang setiap obrolannya selalu berujung pada bisnis MLM yang dia geluti. Sekali dua kali aku masih rela mendengarkan presentasinya, tapi ketika lebih dari itu, hmmm oke presentasi itu mulai menggangguku.

Aku sering mendapatkan sms dan telpon dari teman lama, orang-orang yang terhubung karena masa lalu. Kami sebelumnya hampir berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tidak bertegur sapa. Aku sangat bahagia ketika mereka mulai menghubungiku, membicarakan sedikit nostalgia masa lalu sambil menanyakan kabar kehidupan masa kini dan setelah basa basi yang cukup menyenangkan itu, berakhirlah pada penawaran sebuah produk MLM.

Aku rasa mereka menghubungiku bukan karena aku ini temannya atau memang ingin tahu kabar aku bagaimana, tidak lain dan tidak bukan, semua basa basi itu hanyalah demi kepentingan bisnis mereka. Menyebalkan bukan? Tidakkah aku bisa mendapatkan nostalgia yang indah tanpa diganggu dengan tawaran MLM?

Aku tidak melarang temanku menjalani bisnis MLM, karena memang aku tidak pantas untuk melarangnya. Tapi aku menjadi sedikit “membenci” teman-temanku yang seperti itu. Mungkin saja suatu saat nanti ketika ada panggilan telpon masuk ke ponselku dari mereka, aku tidak akan menjawabnya.

Pada kenyataannya tidak semua orang bisa sukses di MLM, aku salah satu yang gagal. Aku anggap aku memang tidak berbakat menjalani MLM. Mungkin bila sekedar berjualan dengan menunjukkan catalog, aku masih bisa, tapi itupun tanpa rayuan memaksa teman-temanku untuk membeli atau bergabung menjadi member.

Aku tidak akan mengusik keasikan teman-teman sekalian dengan MLM tapi aku juga ingin kalian menghargai aku dengan tidak mengkomersilkan persahabatan kita. Aku bukanprospek yang bagus untuk bisnis kalian, hanya akan menyia-nyiakan waktu saja. Kalau suatu saat aku berminat membeli produk yang kalian jual, pasti aku yang akan menghubungi kalian J percaya deh.

4 comments:

  1. ada banyak yg ngalamin kejadian kayak gini, kalau kayak aku malah jadi gak pengen temenan lagi sama yg suka paksain ikut MLM

    ReplyDelete
  2. wahh sepertinya pengalaman kita sama :(
    MLM memang gak salah sih,, cuma bikin kegiatan bersosialisasi kita jadi terganggu :(

    ReplyDelete
  3. Memang tergantung msg2 orang sih... tp kebanyakan yg gue temuin adalah agen2 yg menyebalkan... *bikin postingan yg suamaaah* http://www.riatumimomor.com/2013/06/limitation.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. Orang orang model gini harus diberangus ya hahahaha

      Delete

Feel free to SHARE this post with friends and family on your social media.

Don't forget to leave your thoughts in the comments section, I would love to hear from you :)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright leniwijayanti.com. Powered by Blogger.