Monday, May 21, 2012

Wanita yang Menanti Cahaya dalam Kegelapan

Perkenalkan, nama saya Putu. Usia saya saat ini belum genap 16 tahun, saya berasal dari sebuah desa di Bali. Ayah saya adalah seorang pekerja serabutan yang setiap harinya tidak jelas penghasilannya. Saya anak tertua di keluarga ini. Ibu saya.. hmmm entahlah, sekalipun saya tidak pernah melihat wajahnya, bahkan dalam bentuk sebuah potret sekalipun. Hanya cerita miring yang saya dengar tentang ibu kandung saya itu.

Beredar kabar bahwa Ibu adalah sosok wanita yang suka kawin-cerai, entah sudah berapa kali. Disetiap perkawinannya itu, dia selalu “membuang” anaknya, mungkin ibu tidak bisa membawa anak-anaknya karena sistem kekeluargaan di Bali yang patrilineal atau mungkin memang tidak ingin membawa anak-anaknya karena akan menjadi beban. Aahh.. ingin sekali saya bertanya pada Ibu, tapi sepertinya mustahil.


Ayah saya kemudian menyunting wanita lain dan menjadikannya sebagai ibu tiri saya, mungkin benar kata orang, ibu tiri itu kejam. Saya tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu, bahkan kasih sayang ayah pun hampir tak ada setelah ayah berumah tangga lagi.

Saya hanya sempat bersekolah sampai kelas 3 SD, saya tidak mampu melanjutkan karena kondisi ekonomi keluarga dan saya harus “mengalah” pada adik tiri saya. Rasanya menyakitkan, ketika kebahagian saya satu-satunya (belajar dan berkumpul bersama teman) pun harus terampas. Waktu itu saya masih sangat kecil, mau melawan juga tak mampu. Saya hanya bisa menangis, sendirian.

Umur 11 tahun saya mulai bekerja, sebagai pembantu rumah tangga di sebuah rumah milik PNS (saya kurang tahu tepatnya PNS kantor apa). Majikan saya baik, walaupun terkadang sedikit cerewet, itu pun karena salah saya yang masih terlalu buta akan pekerjaan. Saya bekerja di sana selama 2 tahun, seluruh gaji saya, saya serahkan pada ayah saya. Setelah berhenti dari pekerjaan pertama saya, saya menjadi buruh serabutan, saya mengerjakan apa saja yang bisa menghasilkan uang.

Setahun berselang, saya berkenalan dengan Komang, lelaki yang menjadi tempat saya berkeluh kesah. Kami berteman, hanya sebatas itu, tidak lebih. Pada suatu hari, saya bertandang ke rumahnya yang agak jauh dari rumah saya, sekitar 30 menit perjalanan. Malam harinya, ketika saya ingin pulang, Komang berkata bahwa dia kurang enak badan dan tidak bisa mengantar saya pulang, dia berjanji keesokan harinya akan mengantar saya. Sempat saya memaksa ingin pulang, tapi ponsel saya dirampas (kemudian saya mengetahui, bahwa ponsel itu dijual). Tidak hanya ponsel, uang saya yang saat itu hanya 10.000 rupiah pun dirampasnya.

Saya terpaksa setuju, karena saya tidak bisa pulang sendiri, saya juga tidak mengenal daerah itu. Keputusan yang salah dan sangat saya sesali, harusnya malam itu saya ngotot minta pulang bahkan kalau perlu saya berjalan kaki pulang. Karena malam itu juga, terjadi peristiwa yang menyakitkan. Saya diperkosa. Ya saya diperkosa oleh lelaki yang saya anggap sahabat saya. Saya berteriak, tapi entah kenapa tak satupun orang mendengar teriakan saya. Komang mengancam akan mencelakai saya apabila saya menceritakan pemerkosaan itu.

Berselang satu bulan setelah kejadian itu, saya tidak kunjung menstruasi dan ternyata apa yang saya takutkan terjadi, saya hamil. Mau tidak mau, saya menceritakan pada Ayah, Ayah marah dan menuntut Komang bertanggung jawab. Lalu kami pun melangsungkan upacara perkawinan, hanya secara agama Hindu saja tanpa dicatatkan ke Catatan Sipil, itu pun sudah menelan biaya hampir 5 juta.

Selama hidup berumah tangga dengan Komang, saya tersiksa. Tidak hanya batin saya tapi juga fisik saya. Komang tidak segan-segan menampar, memukuli bahkan menendang saya. Kata-kata kasar pun selalu terucap dari bibirnya. Pernah kakak ipar saya menyarankan saya untuk bercerai, nantinya anak saya akan dia rawat, tapi sebelum rencana itu terlaksana, saya keguguran saat usia kandungan saya 5 bulan.

Keguguran, sakit sendirian tak ada yang memperdulikan saya, bahkan mengajak saya ke Bidan pun tak ada. Saya hanya bisa menangis, menahan sakit perut saya, mau ke Bidan pun saya sama sekali tidak punya uang. Jangankan ke Bidan, dulu ketika masih hamil saja saya ngidam ayam goreng yang harganya 7000 saja tidak ada yang membelikan.

Pasca keguguran, Komang terus menyiksa saya. Saya pun memutuskan untuk mencari kerja. Tidak begitu lama menunggu, saya mendapatkan pekerjaan, sebagai pembantu rumah tangga. Saya diperbolehkan untuk datang pagi dan pulang pada sore harinya.

Belum satu bulan bekerja, suami saya sudah meminta gaji saya, katanya nanti akan dia pakai membeli handphone. Suami saya pengangguran, kerjaannya hanya bermain Playstation di rumah tetangga. Saya susah payah bekerja dengan menahan sakit perut saya, dia enak-enakan ingin merampas uang saya. Tapi melawan pun saya tak bisa, karna dia mengancam akan menyiksa saya sampai babak belur.

Semua orang yang saya ceritakan tentang kisah ini, menyarankan saya bercerai. Keputusan berat bagi saya. Bukan karena saya mencintai suami saya. saya bahkan sangat membencinya, tapi karena saya memikirkan mertua saya. Dia terlilit hutang 5 juta untuk biaya perkawinan Komang dengan saya kemarin, Komang tidak pernah mau tahu tentang hutang itu.

Entah sampai kapan saya harus menanggung penderitaan ini atau memang kebahagiaan tidak diciptakan untuk saya. Sekarang saya hanya bisa menjalani hidup saya semampunya, sakit hati dan pikiran itu akan saya pendam sendiri. Saya akan selalu berdoa pada Hyang Widhi agar saya diberikan ketabahan menjalani ini semua dan berharap ada cahaya terang di akhir hidup saya yang kelam ini.

*berdasarkan sebuah kisah nyata

4 comments:

  1. bguz bnget Len kisah nya ,
    mungkin ini bs jd bhan renungan
    bahwa hendak nya kita slalu bersyukur ataz karunia yg kita miliki
    karna bgtu bnyk kpahitan2 hidup yg terpaksa haruz d telan mentah2 0leh 0rang2 lain
    bgtu bnyak k kurang beruntungan lain yg bertebaran d muka bumi ini

    tawakal , tetap berjuang penuh semangat dan puji syukur hendak nya slalu kita panjat kan k hadirat yg esa

    sem0ga penderitan c tertulis dlm kisah ini lekas berakhir
    dan dya bisa mulai tersenyum bersama hangat mentari es0k hari
    amien

    ReplyDelete
    Replies
    1. itulah hidup :) kadang sangat keras bagi seseorang dan sangat mudah bagi orang lain..

      Delete
  2. benar2 ..g tahu diri ..semoga cepat berlalu badainya

    ReplyDelete

Feel free to SHARE this post with friends and family on your social media.

Don't forget to leave your thoughts in the comments section, I would love to hear from you :)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright leniwijayanti.com. Powered by Blogger.