Saturday, August 04, 2012

Sahabat untuk Selamanya


Sahabat itu adalah ikatan yang lebih erat dari sekedar pertemanan. Aku mungkin mempunyai banyak teman tapi sahabatku sampai sejauh ini tidak sampai 10 orang. Aku memang mempunyai sedikit kelemahan dalam menjalin hubungan di dunia nyata. Beberapa orang mengatakan bahwa aku termasuk pemilih dalam bersahabat, tapi aku tidak pemilih dalam berteman yang hanya sekedar kenal.

Saat berada di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, aku tidak bisa membedakan mana teman, sahabat atau musuh yang berbulu sahabat. Bahkan jujur saja aku merasa, beberapa orang yang dekat denganku hanya memanfaatkan keluguanku saat itu. Aku tidak menyalahkan mereka, mungkin aku kurang pintar memilih dan terlalu cepat percaya pada bibir manis mereka.

Selepas sekolah menengah pertama, aku memutuskan untuk memulai hidup baru di Yogyakarta. Aku ingin meninggalkan lingkunganku sebelumnya yang aku nilai kurang bersahabat denganku. Di Yogyakarta aku bersekolah di SMAK Santa Maria, ini sekolah putri dengan asrama. Awalnya aku memang tinggal di asrama, tapi ada beberapa senior yang merasa aku mencari masalah dengannya sehingga aku sering di-bully.

Tidak hanya oleh senior, beberapa teman sekamar juga ada yang mem-bully ku. Mungkin karena aku berbeda, pendiam, tidak cantik dan gendut. Yah memang dari dulu, obesitasku menjadi salah satu media empuk untuk mem-bully ku. Tidak kuat dengan suasana asrama ditambah homesick yang menggila, akhirnya aku meminta orang tua ku untuk memindahkanku ke kos.

Tahun pertama di sekolah ini membuatku tidak nyaman, bisa dibilang aku tidak mempunyai teman dan lebih suka menyendiri. Di kelasku ada satu kelompok yang sering berbuat onar, aku selalu menghindari mereka karena tidak mau terseret dalam keonaran. Tapi akhirnya aku dekat dengan salah satu dari mereka yang bernama Anastasia Rina Susanti.


Tahun-tahun berikutnya aku mengalami ikatan yang makin erat dengan Rina, aku bisa bilang dia sahabat pertamaku. Aku dan dia selalu berbagi apapun, berbagai rahasia, cerita suka maupun duka, berpelukan dan menangis bersama saat salah satu dari kami patah hati. Dia tetap menjadi sahabatku bahkan ketika hampir seluruh sekolah memusuhiku. Dia tetap ada untukku bahkan ketika aku bertingkah arogan padanya.

Heri Sulistyo

Selain di sekolah aku juga mempunyai sahabat di luar sekolah, dia adalah Heri Sulistyo atau biasa dipanggil Cupez. Selama bersahabat dengannya, entah beberapa kali dia menyatakan cinta padaku. Aku tidak pernah menerima cintanya karena aku memang sudah nyaman menjadi sahabatnya. Aku sering melupakan dia saat aku jatuh cinta dan mulai memiliki pacar, tapi dia orang pertama yang aku hubungi saat aku patah hati. Aku tahu, aku tidak adil padanya L.

Tiga tahun aku di Yogyakarta, hampir tiga tahun aku bersahabat dengan Rina dan Cupez tapi aku sering merasa bersalah karena aku tidak benar-benar menjadi sahabat mereka. Aku cenderung egois dan seenaknya pada mereka. Setelah aku pindah dari Yogyakarta, aku putus komunikasi dengan Rina, dia tidak mempunyai Friendster (jejaring sosial paling happening saat itu) dan juga ponsel. Kami hanya bisa berkirim surat beberapa kali, tapi kesibukanku kuliah dan juga kesibukannya kerja memutuskan komunikasi kami.

Kalau dengan Cupez sesekali aku masih berkomunikasi, kabar terakhir yang aku terima, dia bertunangan dengan seorang cewek yang katanya mirip denganku tapi sedikit cemburuan, jadi Cupez harus membatasi komunikasi denganku. Hingga akhirnya komunikasi kami pun benar-benar terputus.

Masuk bangku kuliah, aku berusaha membuka diri dan mencari beberapa kandidiat yang bisa aku ajak bersahabat. Awalnya kami berlima, lalu berempat dan terakhir hanya bertiga. Ni Komang Ardani dan Anak Agung Tri Lestari akhirnya menjadi sahabat tetapku dari awal kuliah sampai sekarang, umur persahabatan kami hampir tujuh tahun.

Ardani, Tari dan aku
Hubungan kami bukannya selalu mulus, kadang ada sedikit masalah antara kami bertiga. Bahkan pernah berbulan-bulan tidak menjalin komunikasi. Tapi inilah persahabatan kami, ada pasang surutnya. Ketika kami bertiga berkumpul, kami bisa menjadi sangat heboh dan menggemparkan sekitar. Bila kami dalam kelompok, urat malu kami biasanya mendadak terputus.

Aku tidak selalu menyukai sifat Ardani dan Tari, begitu pula mereka, aku yakin ada beberapa hal yang mereka tidak suka dari aku. Kekurangan masing-masing dari kami tidak membuat kami berhenti bersahabat. Walaupun kami bukan sahabat yang terlalu solid tapi kami menikmatinya. Bahkan bisa aku bilang, orang yang tau seburuk-buruknya aku adalah Ardani dan Tari, jadi bila ingin tau tentang aku, tanyakan mereka J.

Tulisan ini, aku dedikasikan untuk dua sahabatku di Yogyakarta, Rina dan Cupez, semoga saja kita bisa berkomunikasi lagi nanti. Bila ada yang baca ini dan kebetulan mengenal salah satu dari keduanya tolong kirimi aku email. Untuk Ardani dan Tari, terimakasih kalian mau menjadi sahabatku ditengah segala keburukan sifatku, semoga persahabatan ini ada untuk selamanya sampai satu persatu dari kita meninggal dunia.

4 comments:

Feel free to SHARE this post with friends and family on your social media.

Don't forget to leave your thoughts in the comments section, I would love to hear from you :)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright leniwijayanti.com. Powered by Blogger.