Friday, September 21, 2012

Cinta Beda Agama


Seperti yang sudah kita ketahui bersama, Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, bangsa dan juga agama. Dalam satu pulau bisa dihuni oleh masyarakat yang berbeda-beda. Perbedaan itu memang indah tapi tidak jarang malah menimbulkan konflik, baik konflik horizontal maupun konflik horizontal. Dalam pandanganku, konflik itu muncul karena sedari kecil kita diberikan pemahaman bahwa kita harus mempertahankan hak kita, bukan membaginya.


Cinta adalah salah satu hal yang tidak dapat kita tebak kapan akan terjadi. Entah apa pertimbangan si Cupid menembakkan panah cintanya pada sepasang manusia. Tidak jarang panah Cupid itu mengenai dua sejoli yang berbeda keyakinan. Ya cinta memang tidak memandang agama, status sosial, pendidikan, suku, bahasa, bangsa bahkan jenis kelamin.

Aku bukan orang yang terlalu religius, aku tidak pernah mempermasalahkan nantinya akan berpindah agama atau tetap pada agamaku sekarang. Pemikiran yang mungkin tidak dianggap baik oleh kebanyakan orang. Pemikiran yang mulai ada sejak aku duduk di bangku SMA.

Saat SMA, di sekolah aku dikenalkan berbagai macam agama. Memang dalam satu kelas, siswa berasal dari berbagai agama. Satu persatu dari kami mempresentasikan secara singkat tentang agama kami masing-masing. Dari pengalaman di SMA itulah, aku mengenal beberapa agama, walaupun tidak mendalam, hanya gambaran awal saja.

Kembali lagi ke topik, pacaran beda agama tidak akan menimbulkan masalah yang berarti kalau kedua belah pihak saling toleransi. Namun masalah akan muncul ketika hubungan itu akan naik tingkat dan mulai melibatkan keluarga. Tidak semua keluarga bisa menerima bila salah satu anggotanya menjalin hubungan spesial dengan seseorang yang beda keyakinan.

Orang tua dari keluarga yang sangat religius akan menginginkan anaknya menikah dengan seseorang yang memiliki keyakinan sama. Bahkan ada beberapa orang tua yang akhirnya memutuskan untuk tidak menganggap anak pada anak mereka yang memilih untuk pindah agama agar bisa bersatu dengan cintanya. Undang-undang sebenarnya menjamin kebebasan setiap warga Negara Indonesia untuk meyakini kepercayaannya masing-masing.

Ada dua kepentingan yang bergejolak, hubunganmu dengan keluarga atau hubunganmu dengan kekasih. Kamu tidak bisa membahagiakan semua orang, ketika memang dua kepentingan ini tidak dapat dipersatukan kamu harus memilih, melanjutkan hubunganmu dengan kekasih atau menuruti orang tuamu.

Kalau menentang orang tua mu, kamu harus siap untuk merasa tidak dianggap oleh mereka, bahkan mungkin akan berpengaruh pada hubunganmu dengan keluarga lainnya. Kalau memutuskan mengakhiri hubungan dengan kekasihmu yakamu harus siap untuk patah hati.

Belakangan ini memang mulai banyak ada orang tua yang mengijinkan anaknya berpindah agama untuk menikah. Seperti orang tuaku. Walaupun dulu, mereka sering menantang saat aku berpacaran beda agama dan selalu berharap akuy mendapatkan yang masih satu agama dan satu suku. Aku berusaha untuk selalu memberikan pengertian pada mereka bahwa satu agama/suku tidak menjamin kebahagiaanku kelak.

Aku sedikit menakut-nakuti mereka, bagaimana kalau aku menuruti mau mereka mencari yang seagama namun akhirnya aku tidak bahagia, apakah mau tanggung jawab nanti. Hahaha dan ternyata itu sukses, saat ini orang tua ku tidak mempermasalahkan aku akan menikah dengan siapa, sepangjang dia adalah orang yang mampu bertanggung jawab dan membahagiakanku dalam situasi apapun. Kalau kata kakak ku, yang penting dia masih manusia berjenis kelamin laki-laki dan aku yakin sama orang yang aku pilih.

Walaupun dalam UUD 1945 diatur bahwa setiap rakyat Indonesia bebas menentukan pilihannya dalam beragama, namun sampai saat ini (sejauh yang aku tau) belum bisa melakukan pernikahan beda agama. Salah satu harus mengalah untuk melepaskan agamanya atau menikah di luar negri dulu lalu di-sah-kan di Indonesia.

Apapun pilihan yang akhirnya kamu ambil, itu harus didasari pada keyakinan yang teguh, bila setengah hati nantinya akan menimbulkan penyesalan. Selain itu juga harus siap menerima segala kosekuensi yang diakibatkan, susah senang dan apapun itu, itu sudah menjadi bagian yang harus kamu tanggung. Semoga beruntung seperti aku dengan kisah cinta beda agamamu J

2 comments:

  1. Trus kapan nih resepsinya ? Mumpung saya masih di Bali :-)

    ReplyDelete
  2. om @7520228ef52332856a3c81c0d819fde0:disqus kira2 tahun depan masih di Bali kah?

    ReplyDelete

Feel free to SHARE this post with friends and family on your social media.

Don't forget to leave your thoughts in the comments section, I would love to hear from you :)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright leniwijayanti.com. Powered by Blogger.