Sunday, September 30, 2012

Happy Korean Thanksgiving! 해피 추석~


Tidak seperti biasanya, pagi ini pacarku bangun pagi. Padahal ritual hari minggunya adalah tidur hingga tengah hari. Pagi ini menjadi berbeda karena hari ini bertepatan dengan perayaan thanksgiving di Korea Selatan. Thanksgiving atau Chuseok () jatuh pada hari ke-15 bulan ke-8 dalam kalender lunar (bulan) atau sekitar bulan September sampai Oktober. Chuseok dirayakan untuk mengucapkan terimakasih atas hasil panen yang memang biasanya pada bulan tersebut sedang melimpah.


Chuseok juga disebut sebagai Hari Panen, Festival Bulan Musim Panen, atau Hangawi (한가 "han" = "raya", "gawi" = "tengah", "hari besar di tengah-tengah musim gugur). Orang-orang Korea yang bekerja di luar kota memanfaatkan hari Chuseok untuk pulang ke kampong halaman, berkumpul dengan sanak saudara serta mengunjungi makam keluarga. Terdengar seperti tradisi mudik yang terjadi di Indonesia.


Oppa pagi ini setelah sarapan dengan keluarganya juga akan mengunjungi makan orang tuanya, membersihkannya, merapikan tanaman dan tanah di sekitarnya serta memberikan persembahan berupa makanan, kacang-kacangan, buah-buahan, soju dan juga hasil panen. Setelah semua bersih dan tertata rapi lalu memberikan penghormatan kepada para leluhur dengan cara membungkuk. Dalam bahasa Korea tradisi membesihkan makam keluarga ini disebut dengan Bulcho (벌초).


Sepulang dari makam keluarga, mereka akan berkumpul di rumah saudara yang paling tua, karena di rumah ini lah altar keluarga berada. Mereka lalu menyiapkan meja sesaji di depan altar yang disebut dengan Charye (차례). Setelah meja siap dengan rapi, anggota keluarga memberikan penghormatan kepada leluhur dengan cara membungkuk.

Cara menyiapkan meja untuk charye adalah:
  • Menggunakan latar belakang yang berlipat dan dihiasi kaligrafi dan meja pendek yang besar;
  • Paling depan adalah foto dan papan nama leluhur serta doa;
  • Setelah itu cawan untuk soju, lilin, nasi, sup dan sumpit;
  • Berikutnya aneka masakan;
  • Lalu makanan kering seperti cumi kering dan sayuran;
  • Urutan terakhir adalah buah-buahan dan juga kacang-kacangan.


Sekarang kita bahas makanan khas saat Chuseok, ini adalah bagian favoritku hahaha… Makanan wajib saat chuseok adalah Songpyeon (송편). Songpyeon adalah kue beras yang dibentuk menyerupai bulan sabit. Songpyeon saat dikukus ditambahkan duri cemara di atasnya agar kue tidak saling lengket dan juga untuk menambahkan cita rasanya.

Isi songpyeon diantaranya adalah kacang merah, kacang kedelai, kastanye dan juga biji wijen. Saat membungkus isi songpyeon dengan adonan, mereka percaya bahwa mereka sedang membungkus harapan mereka. Adonan itu akan membuat harapan mereka tidak hilang.

Chuseok mewakili beberapa aspek yang paling penting dari budaya Korea: keluarga, menghormati orang tua dan leluhur, serta berbagi makanan bersama dan minuman. Karena Chuseok adalah waktu kumpul dengan keluarga besar, permainan keluarga dan kegiatan dan acara keluarga merupakan bagian yang penting.

Keluarga memainkan permainan tradisional Korea seperti:
  • papan yut nori (윷놀이) adalah permainan melempar tongkat



  • hwa-tu () adalah kartu korea


  • paduk () adalah strategi permainan papan.



Kegiatan di luar ruangan juga populer selama Chuseok, dan banyak digunakan untuk menggabungkan seluruh desa dalam perayaan. Noltigi,  jungkat-jungkit versi Korea, adalah kegiatan liburan populer. Noltigi dilakukan berdiri, peserta (biasanya perempuan) berdiri di sisi berlawanan dari papan panjang dan diluncurkan tinggi di udara. Layang-layang terbang, panahan, dan gulat tradisional kegiatan di luar ruangan Korea untuk Chuseok.

Sudah membersihkan makam, meja di depan altar sudah tersusun rapi, sudah bertemu dan bermain dengan keluarga seharian, perut juga sudah kenyang makan songpyeon. Nah sekarang saatnya menari di bawah sinar bulan!

Nama tariannya adalah Ganggangsullae (강강술). Tarian ini merupakan Warisan Budaya Nonbendawi Korea Selatan Nomor 8 tahun 1966 dan juga diakui UNESCO sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia pada tahun 2009.

Awalnya tari Ganggangsullae dilakukan oleh anak-anak perempuan yang belum menikah usia 15 sampai 20 tahun, terkadang juga dilakukan oleh wanita yang sudah menikah namun usianya masih muda. Tapi setelah ditetapkan sebagai warisan budaya, tarian ini mulai ditarikan oleh perempuan usia lebih tua lagi.


Di bawah terang bulan, puluhan perempuan berpegangan tangan untuk membentuk lingkaran, bernyanyi dan menari. Matahari melambangkan laki-laki dan bulan adalah perempuan. Gerakan sangat menarik dan dinamis. Gerakannya tergantung pada tempo yang ditetapkan oleh vokalis dan musik. Kategorinya adalah gin (lambat) Ganggangsullae, jung (tengah) Ganggangsullae dan jajeun (cepat) Ganggangsullae. 

Ahhh sepertinya tradisi yang indah dan menarik untuk dilakukan, tahun ini cukup mengenalnya saja, harapannya sih tahun depan bisa ikut merayakan Korean Thanksgiving ini *pray*.

Happy Thanksgiving! 해피 추석~~ (/^ㅇ^)/

reference:

2 comments:

  1. ini kebetulan banyak belajar dr pacar sih, persiapan kalau tahun depan jadi hijrah ke sana haha... kita sama2 belaja ya, asal jangan tanya kpop aja, aku gak ngerti :P

    ReplyDelete
  2. luas banget pengetahuan soal koreanya...lumayaannn ada tempat buat belajar bahasa korea nih :)

    ReplyDelete

Feel free to SHARE this post with friends and family on your social media.

Don't forget to leave your thoughts in the comments section, I would love to hear from you :)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright leniwijayanti.com. Powered by Blogger.