Wednesday, October 17, 2012

Antara Canda dan Hina


Setiap orang mempunyai selera humor yang tak sama. Mereka mempunyai ukurannya masing-masing dalam mengkategorikan mana lawakan yang lucu dan mana yang tidak. Contoh kecilnya, ketika orang lain tertawa terbahak-bahak menonton OVJ, bagiku itu tidak cukup lucu mengundang tawaku.


Beberapa orang yang menyebut diri mereka pelawak, menggunakan kekurangan pada diri orang lain sebagai bahan olokan. Lucu? Mungkin iya bila bukan kamu yang mereka bicarakan. Bagaimana bila ternyata kamu yang diolok? Menyakitkan bukan? Selera dan pikiran tiap manusia memang berbeda. Bahkan dalam mengkategorikan mana yang disebut bercanda dan mana yang disebut menghina.

Aku bertubuh bongsor, banyak orang yang kemudian menjadikan ini sebagai bahan bercanda. Ketika satu dua kali aku, mungkin aku masih menganggapnya lucu, tapi lebih dari itu hmmm sudah mulai menggangguku. Begitu pula halnya dengan logat saat aku berbicara.

Aku mempunyai pengalaman yang kurang mengenakkan kemarin siang di kantor. Ini bukan sesuatu yang terjadi begitu saja, ada kejadian-kejadian sebelumnya yang menumpuk dan akhirnya menimbulkan sedikit ledakan.

Aku berasal dari kabupaten Buleleng, ketika berbicara dengan orang yang di Denpasar atau Badung, gaya berbicaraku mungkin terdengar asing. Beberapa kali, saat aku berbicara dalam bahasa Bali, logat ku secara tidak sadar akan muncul dan kemudian menjadi bahan olokan orang-orang di sekitarku. Ini yang akhirnya membuatku memilih untuk berbicara dalam bahasa Indonesia saja.

Kemarin pagi, ketika kembali ada seseorang yang menyinggung logat Buleleng ku, aku pun meledak, bukan marah sebenarnya, hanya menegur agar itu tidak dibicarakan lagi, bahkan ketika bermaksud bercanda. Ternyata yang bersangkutan tidak menerima, dia bilang aku nyolot dan menyudutkan dia di depan umum.

Entahlah, niatku hanya ingin menegurnya agar dia tahu bahwa aku tidak suka dia menyinggung logatku dalam kapasitas apapun. Dia bilang aku tidak bisa bercanda, tapi entah sudah berapa kali aku diam ketika dia nyeletuk sesuatu yang aku kurang suka. Bercanda sih boleh saja, aku juga suka tertawa tapi kan ada beberapa hal yang kurang pantas di ungkapkan.

Kata-kata yang sedikit kasar yang dia gunakan untuk “menegur”ku karena menurut dia aku sudah nyolot. “Kalau kamu bukan wanita, sudah aku pukuli kamu, bahkan di hadapan atasan sekalipun” pantaskah kata-kata seperti itu diungkapkan? Aku tidak salah, aku hanya menegurnya di depan beberapa orang agar menghentikan kebiasaannya itu.

Aku tidak mengancam dia, aku tidak menyudutkan dia, aku hanya menegurnya. Tidak semua hal yang menurut dia lucu juga bisa membuatku tertawa. Apakah aku harus menegurnya dengan halus hanya karena dia berkasta lebih tinggi? Toh dia bercanda tentang hal yang kurang aku suka di depan umum.

Aku merasa sedikit terancam dan terintimidasi, aku memang wanita, aku memang lebih muda, kalau dia memukulku pun aku pasti gak akan bisa melawan dia. Tapi kalau memang dia lakukan itu dengan dalih aku tidak bisa diajak bercanda, aku akan menerimanya toh kantorku bersebelahan dengan kantor polisi.

Aku juga heran, mengapa dia marah padaku seolah-olah aku ini telah memperlakukannya dengan sangat teramat jahat. Harusnya dia mau menerima teguran dan juga sedikit merendah bila memang ada orang lain yang menegurnya karena sikap dia yang kurang baik.

Kemarin aku lebih banyak diam saat dia mulai memojokkanku, bukan karena aku merasa bersalah, tapi karena aku rasa itu sikap yang baik bila berhadapan dengan pria yang kaku. Aku akan menggunakan otakku karena aku tidak bisa menyelesaikan masalah dengan ototku.

Kalaupun dikemudian hari aku tidak menyapa dia atau bersikap manis padanya, bukan karena aku merasa takut dan nggak enak hati. Aku hanya ingin membatasi diriku hanya berteman dengannya sebagai rekan kerja, tidak kurang dan tidak akan pernah lebih dari itu.

Buat siapapun yang baca ini, sedikit berhati-hati lah, canda dan hina itu terkadang sulit dibedakan, tiap orang punya cara berpikirnya sendiri, jangan memaksakan apa yang kamu anggap canda juga adalah canda mungkin bagi dia itu adalah hina.

3 comments:

  1. Dalam canda ada keseriusan tapi dalam keseriusan tak ada canda.


    Jadi inget candaan alm. Gus Dur. Beliau membuat orang lain tersenyum dengan menentertawakan diri sendiri dulu sebagai objek.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau kayak gitu kan gak nyakitin siapa2, karena tau kapasitas bercanda itu hanya bercanda bukanlah menghina

      Delete
  2. @twitter-59537433:disqus karena kalau menggunakan diri sendiri sebagai bahan candaan kan karena Beliau tau kapasitasnya hanya bercanda dan menghibur bukan untuk menghina

    ReplyDelete

Feel free to SHARE this post with friends and family on your social media.

Don't forget to leave your thoughts in the comments section, I would love to hear from you :)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright leniwijayanti.com. Powered by Blogger.