Saturday, March 23, 2013

Belajar Ilmu Sihir di Eropa



Mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang selama ini dijadikan dasar dalam penuntutan tindak pidana adalah warisan dari pemerintahan Belanda. Jadi saat Belanda menduduki wilayah Indonesia, mereka menerapkan hukum pidana yang sama seperti yang diterapkan di negara asalnya. Peraturan pidana itu sendiri tidak murni berasal dari Belanda, karena merupakan turunan dari code penal di Perancis.


Saat ini, bentuk dasar KUHP baik yang berlaku di Perancis maupun di Belanda sudah lama dicabut. Mungkin dua negara tersebut sudah merasa apa yang tertuang di dalamnya tidak sesuai lagi dengan perkembangan jaman. Namun di Indonesia KUHP masih berlaku sampai saat ini.

Saat aku kuliah dulu, salah satu dosenku mengatakan bahwa sebenarnya Indonesia telah membuat rancangan KUHP yang baru. Yang membikin aku sedikit terkaget-kaget, RKUHP itu sudah disusun sejak tahun 1970an, jauh sebelum aku lahir dan entah kenapa hingga hari ini masih berupa rancangan.

Masalah RKUHP mulai terdengar lagi gaungnya beberapa waktu kebelakang ini. Salah satu hal yang aku dukung adalah dalam RKUHP itu perihal hukum adat sudah dimasukkan. Jadi apabila nantinya ada satu pelanggaran adat, walaupun tidak tertulis dalam UU atau KUHP, perbuatan tersebut tetap dapat dipidanakan.

Namun ada juga yang cukup menggelitik, perihal santet. Memang sebagian besar masyarakat Indonesia sangat dekat dengan kehidupan santet menyantet. Ada yang entah bagaimana ceritanya ada paku di betis, tumbuh kawat dari perut atau sederek kisah mistis lainnya yang dianggap sulit dijelaskan secara ilmiah.

Namun bagaimana caranya membuktikan adanya santet? Dengan menghadirkan telur isi paku ke persidangan? Oke lah kalau memang itu bisa dilakukan, lantas bagaimana membuktikan siapa pengirim santet tersebut? Bagaimana caranya menuding si A atau si B tanpa menimbulkan fitnah?

Bagian paling konyol dari masalah santet ini adalah niatan anggota dewan kita yang terhormat itu untuk studi banding masalah santet ke Eropa. Dalih mereka santet itu kan sihir dan di Eropa sana juga ada sihir. Sampai saat aku menulis ini, aku masih kurang mengerti mengapa harus ada studi banding, bukan hanya untuk santet tapi juga masalah lainnya.

Mungkin anggota dewan yang terhormat ini adalah tipe manusia kuno yang tidak bisa berdiskusi jarak jauh, harus face-to-face. Padahal saat ini ada yang namanya email dan telekonferensi, yang menurutku itu jauh lebih efisien daripada harus terbang ke Eropa. Ya memang sih jadinya kan gak bisa sambil icip icip kuliner sana atau jalan-jalan menikmati Eropa.

Dan kenapa juga studi bandingnya harus ke Eropa? Walaupun di sana ada sihir tapi kan masyarakat sana berbeda dengan masyarakat Indonesia. Hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan masyarakat setempat, bukan sesuai dengan negara lain. Kita tidak bisa menerapkan aturan di Eropa untuk di Indonesia.

Perumpamaannya seperti ini, Bali dan Aceh adalah dua provinsi yang berbeda, salah satunya adalah cara berpakaian. Di Bali wanita menggunakan celana super pendek seliweran adalah hal yang biasa tapi tidak biasa terjadi di Aceh. Bayangkan bila Pemda Aceh melakukan studi banding di Bali untuk kepentingan pembentukan perda cara berpakaian. Aku rasa itu akan tidak nyambung dan juga tidak tepat.

Nah kenapa anggota dewan kita yang terhormat itu tidak melakukan penelitian atau apapun itu namanya di Indonesia saja? Mengunjungi beberapa provinsi di Indonesia dan menanyakan bagaiamana santet di daerah tersebut. Aku rasa itu akan jauh lebih menghasilkan peraturan yang berkualitas dan sesuai dengan masyarakat Indonesia.

31 comments:

  1. anggota dewannya kan cuma mau ngabisin duit rakyat aja..

    ReplyDelete
  2. kunjungan perdana gan..suskes terus untuk blog dan tutornya..
    eh ditunggu folbacknya ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. halo.. aku udah ke blog km tp gak nemu follow blog nya :( sorry

      Delete
  3. Sebelum santer berita ini, sebelumnya sudah pernah dengan isu santet di RUU KUHP yang baru ini. Konon sudah ngundang Ki Joko Bodo segala dalam pembahasannya. Masalah studi banding ini, anehnya kenapa harus ke Eropa. Saya malah pernah denger kalau ilmuan Eropa juga belajar santet di Indonesia terkait teleportasi. -___-

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha... kita punya anggota dewan yang cukup rempong yaaa

      Delete
  4. santet menyantet harusnya indonesia paling jago, kita merdeka aja bambu runcing lawan senjata.hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha jd itu bambu runcingnya ditambah santet juga ya :))

      Delete
  5. Santet dari eropa sudah Go International ya ?

    ReplyDelete
  6. owh, rupanya hak paten utk santet di pegang oleh Eropa? *tepok jidat* - ohya, utk kamu...ya boleh deh ikutan GA di blog daku ya ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. siip ^^ udah ikutan tuh.. makasi ya

      Delete
  7. Kalau ada pendaftaran polisi dunia gaib ikut daftar ah. :D

    ReplyDelete
  8. Itu kalo beneran ada tuh ntar UU tentang santetnya, hakimnya juga perlu waspada jadi korban santet juga tuh ntar, hihiihi....

    Yah kalo masalah studi banding anggota dewan, mau mengenai apapun perasaan selalu ada yang mengganjal ya mbak :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha. Susah lho menentukan pengirim santetnya siapa.. bener bgt tuh, berasa buang² uang rakyat aja

      Delete
  9. belajar santetnya berapa menit. icip icip 3 jam, jalan-jalan 5 jam, foto-foto 2 jam, beli oleh-oleh 6 jam. haha

    anggota DPR yang ter.... (silahkan isi sendiri) xixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belajarnya cukup 5menit kan cuma bilang "lebih lengkapnya kirim via email aja ya"

      Delete
  10. apapun selalu dijadikan alasan buat mrk utk jalan2 eh study banding ke luar negeri, ya :)

    ReplyDelete
  11. Anggota Dewan emang bener2 sibuk. Sibuk ngerjain hal yang gak penting.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal orang² yg mereka wakilin ada yg lg kelaperan

      Delete
  12. menarik sekali pembahasanya, bikin saya pengen update blog deh :D
    salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo update blognya!! Ntar kasi tau link nya yaa

      Delete
  13. wah, saya juga ngedenger kalo akan ada RUU tentang santet..

    ReplyDelete
  14. saya suka analogi yang di ambil.. antara bali dengan aceh.. iya kadang-kadang.. pemerintah kita memang agak absurd dalam melaksanakan segala sesuatu :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe.. makasi ya (*¯︶¯*) itu kebetulan kan saya tinggalnya di Bali dan dari beberapa sumber yg saya baca di Aceh beda banget sama di Bali, makanya saya pake analogi itu

      Delete
  15. wah, jangan-jangan eyang subur belajar di eropa :D

    ReplyDelete

Feel free to SHARE this post with friends and family on your social media.

Don't forget to leave your thoughts in the comments section, I would love to hear from you :)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright leniwijayanti.com. Powered by Blogger.