Monday, March 04, 2013

Dasar Hukum Perjanjian Pranikah


Perjanjian pranikah atau prenuptial agreement adalah perjanjian antara calon mempelai tentang kehidupan setelah pernikahan. Perjanjian ini sudah sangat jelas harus dibuat sebeluma atau saat pernikahan dilangsungkan, bukan setelahnya. Untuk mendapatkan kekuatan hukum, perjanjian pranikah harus dibuat dihadapan notaris dan ikut disertakan saat mendaftarkan pernikahan ke catatan sipil.


Di Indonesia keberadaan perjanjian pranikah ini belumlah terlalu popular. Banyak yang beranggapan bahwa perjanjian pranikah ini terlalu bersifat keduniawian sehingga tidak sepantasnya digabungkan dengan pernikahan yang sangat sakral. Padahal hukum positif kita sudah mengaturnya sejak lama.

Perjanjian pranikah sudah dapat kita temukan dalam Pasal 139 Bab VII – Perjanjian Kawin KUHPerdata, disebutkan bahwa :
Para calon suami-istri, dengan perjanjian kawin dapat menyimpang dari peraturan undang-undang mengenai harta-bersama, asalkan hal itu tidak bertentangan dengan tata-susila yang baik atau dengan tata-tertib umum, dan diindahkan pula ketentuan-ketentuan berikut

Sangat terlihat bahwa penekanan isi dari perjanjian pranikah adalah kekayaan. Kemudian diatur kembali dalam UU no 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dimana cangkupan isi perjanjian pranikah menjadi lebih luas yaitu pada Pasal 29 ayat (1) Bab V tentang Perjanjian Perkawinan menyebutkan bahwa :
“Pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan kedua belah pihak atas persetujuan bersama dapat mengajukan perjanjian tertulis yang disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan, setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga tersangkut”.

Pada umumnya isi dari perjanjian pranikah memang menyangkut harta benda, termasuk pembagian harta bila terjadi perceraian. Apabila tidak memiliki perjanjian pranikah maka saat terjadi perceraian, sesuai dengan Pasal 35 UU nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan, harta yang diperoleh setelah perkawinan akan dibagi dua, karena masuk kategori harta bersama.

Selain menyangkut harta, dalam perjanjian pranikah juga bisa disertakan mengenai hak asuh anak atau kesepakatan antara suami isrti lainnya. Yang terpenting adalah isi perjanjiannya tidak melanggar batas-batas hukum, agama dan kesusilaan. Isi perjanjiannya kemudian hari bisa dirubah apabila hal tersebut diatur di dalamnya. Setelah ada perubahan harus dalam bentuk akta notaris juga dan dicatatkan pada catatan sipil.

Ada banyak alasan kenapa sepasang calon pengantin ingin membuat perjanjian pranikah. Kekawatiran akan terjadinya perceraian menjadi alasan utama, apalagi melihat begitu mudahnya suami istri memutuskan bercerai saat ini. Ada juga yang ingin melindungi hartanya karena merasa memiliki pendapatan yang lebih besar dari pasangannya.

Alasan lainnya juga untuk menghindari resiko pekerjaan berdampak buruk pada pasangan. Misalnya si suami bekerja di bidang yang beresiko tinggi di financial, maka perjanjian pranikah ini bisa melindungi istri apabila suami mengalami kerugian financial. Penting atau tidaknya perjanjian pranikah sebenarnya balik lagi ke calon pengantin.

Reference
UU No 1 Tahun 1974
Kitab Undang-undang Hukum Perdata Indonesia

8 comments:

  1. disatu sisi biar meski sudah menikahpun ada 'pengingat' agar tidak saling semena2 pada pasangan saya kira :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya :) kan kesepakatannya bisa apa aja, kl memang perlu materi KDRT dan penbagian tugas jg bs dimasukkan

      Delete
  2. saya tidak sepaham dengan perjanjian ini..
    karena bukankah jika seoarng yang mau menikah itu sudah saling percaya dan terbuka satu sama lain jadi urusan harta saya rasa tidak perlunya dipersoalkan sampe segitunya :)
    kalau masalah pembagian harta jika bercerai bukankah sudah ada aturannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. memang sih, masalah penting atau gak penting ya kembali lagi ke pasangan yang akan menikah itu

      Delete
  3. aku pernah baca katanya kl dari awal aja udah bikin perjanjian pra nikah berarti ngarep cerai di kemudian hari... Tapi bener, perlu enggak perlu balik ke masing2 pasangan tentunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau menurutku sih gak ngarep cerai ya, apalagi isi perjanjiannya kan gak selalu tentang kekayaan, bisa aja tentang jadwal cuci piring antara suami istri hahaha

      Delete
  4. Eww nikah emang enak nyesel aku? Kenapa gak dari dulu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha.. dulu bikin perjanjian pra nikah gak?

      Delete

Feel free to SHARE this post with friends and family on your social media.

Don't forget to leave your thoughts in the comments section, I would love to hear from you :)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright leniwijayanti.com. Powered by Blogger.