Friday, October 25, 2013

LDR ~ Keraguan Itu Muncul


Setiap hubungan antara manusia pasti mengalami pasang surut. Kadang hubungan itu dingin, ada kalanya menjadi hangat dan menenangkan atau bahkan sesekali memanas seperti bara api hingga saling menyakiti. Menerima saat menyakitkan untuk bisa mensyukuri saat menyenangkan. Lagi pula hidup itu kan memang harus seimbang.


Pasang surut itu juga terjadi dalam hubungan percintaanku. Sejak awal menjalin hubungan tidak biasa ini, aku memang memiliki keraguan. Namun dengan caranya, pria itu bisa meyakinkanku bahwa kami memang terlahir untuk bersama. Tahun pertama kami ditutup dengan manis oleh pertunangan kami. Memasuki tahun kedua, semua terasa lebih berat. Dimulai dengan mundurnya rencana pernikahan kami.


Komunikasi kami mulai makin jarang. Itu karena dia sibuk dengan pekerjaannya. Entahlah, aku kurang suka dia bekerja di perusahaannya saat ini. Dari apa yang dia ceritakan, aku simpulkan perusahaan itu seperti vampire yang menghisap darah karyawannya. Aku sarankan untuk mencari pekerjaan lain tapi kata dia, sulit menemukan pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaannya saat ini.

Keadaanku pun tak jauh beda dengannya walaupun tempatku bekerja tidak seperti vampire, mereka memperlakukanku dengan cukup baik walaupun aku juga ingin mendapatkan pekerjaaahan yang lebih baik lagi. Sambil aku mencarinya, aku tetap bertahan di sini.

Kesulitan yang kami temui tidak sedikit pun menggoyahkan keraguanku padanya. Namun beberapa hari lalu, saat dia bertanya “bagaimana kalau kita tidak menikah? Bagaimana kalau aku kembali memutuskan untuk membujang selamanya?” pertanyaan yang gak pernah aku kira sebelumnya. Duh rasanya itu nyesek banget, semalaman nangis udah kayak lagunya Audy.

Setelahkan aku tegaskan lagi, dia berkata bahwa itu hanya ‘bagaimana kalau’ bukan benar-benar ingin mengakhiri hubungan kami. Dia sedang dalam keadaan depresi. Dia terjatuh dalam kondisi yang penuh tekanan. Sebenarnya tidak dia saja yang depresi, aku juga depresi karena masa depan kami yang buram. Tapi aku selalu berusaha untuk mendukung dia.

Kejadian itu menyisakan setitik keraguan dalam benakku. Walaupun setelah itu dia bersikap normal, seperti biasanya. Tidak ada yang berubah sama sekali. Kejadian malam kelabu itu membuatku sadar bahwa aku sangat mencintainya tapi aku juga siap dengan kemungkinan terburuk dari hubungan kami. Kalaupun harus berakhir, ini tetap akan menjadi bagian indah dalam hidupku.

Dua tahun terakhir ini, aku selalu menyelipkan namanya dalam doaku. Aku meminta bila memang kami tidak terlahir untuk bersama, kami untuk dikondisikan untuk berpisah secepatnya. Kalau memang harus ada yang sakit, berikan itu padaku. Aku sering merasa sakit hati sebelumnya dan aku selalu bisa mengatasinya, yang aku mau hanya kebahagiannya.

2 comments:

  1. Semoga segera menemukan titik temu ya mbak buat hubungan asmaranya :)

    ReplyDelete

Feel free to SHARE this post with friends and family on your social media.

Don't forget to leave your thoughts in the comments section, I would love to hear from you :)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright leniwijayanti.com. Powered by Blogger.