Friday, February 14, 2014

Tanya...

Tanya...

Banyak yang bertanya mengapa aku memilih untuk bertahan, menjalani hubungan yang menurut sebagian orang tidak biasa. Aku punya alasan kuat tapi sementara ini aku memilih untuk menyimpannya sendiri.

Banyak pula yang bertanya apa aku tidak tersiksa dengan rasa rindu setelah setahun lebih tidak bertemu.

Rindu.. sepertinya kalimat rindu nan gombal apapun tidak ada yang bisa menerjemahkan apa yang aku rasakan saat ini. Aku hanya bisa merasakan, menahannya ketika terasa sakit dan mencoba untuk selalu tersenyum.

Aku bukannya pura-pura bahagia dalam hubungan ini. Walaupun aku harus akui bahwa aku sering menangis dalam gelapnya malam. Wanita mana yang tidak merasa sedih bila harus terpisah sekian lama dari kekasihnya?

Aku hanya mengikuti kemana cinta ini membawaku, kemana penantian ini akan bermuara.

Tidak aku pungkiri saat semua terasa makin berat aku ingin menyerah, meninggalkan apa yang selama ini aku percaya. Manusiawi aku rasa. Tapi semangatku untuk bertahan muncul lagi ketika aku membaca ulang chat historis kami dan aku tidak menemukan satu kata pun yang menandakan dia ingin menyerah. Dia tidak pernah sekalipun ingin meninggalkanku, seberat apapun hidupnya setelah bertemu denganku.

Sudahlah, biarkan waktu yang menjawab seperti apa, kemana dan kapan ini semua berakhir.. 

Tuesday, February 04, 2014

Banjir dan Kembang Api


Siang ini ada salah satu temanku di Path yang posting gambar dengan sederet kata-kata yang menyudutkan kembang api sebagai biang dari banjir yang terjadi di negeri ini. Katanya manusia menyerang langit saat malam pergantian tahun 2014 dan sekarang si langit menyerang balik manusia dengan hujan terus-terusan sehingga banjir. 

Jadi masih ada toh manusia yang menyalahkan perayaan tahun baru atas banjir yang terjadi di tanah air? Sekedar pemberitahuan, aku salah satu orang yang tidak menikmati pergantian tahun baru dengan kembang api. Alasannya aku tidak suka kebisingan yang ditimbulkan kembang api murahan pinggir jalan, yang cuma besar suaranya tapi cipratan cahaya ala kadarnya. Alasan lainnya aku tidak ingin membakar uangku dalam bentuk kembang api, mending aku beli makanan kan, perut kenyang perasaa  juga bahagia.

Entah logika apa yang dipergunakan untuk menganalogikan pesta kembang api sama dengan banjir dikemudian hari. Kalau ada orang yang kebetulan nyasar ke blog ini, baca tulisan ini aku mau tanya, kalau Jakarta saja banjir karena perayaan tahun baru dengan menyerang langit menggunakan kembang api, lantas apa kabar dengan Dubai? Aku pernah baca (besok kalau online di laptop aku cari link-nya) bahwa pesta kembang api saat pergantian tahun di Dubai adalah yang paling dahsyat. Seharusnya bila menggunakan analogi kembang api sama dengan banjir artinya Dubai tenggelam dong? Tapi sampai aku nulis ini Dubai masih baik-baik saja, tolong koreksi bila ternyata salah. 

Hujan itu berkah loh dari Tuhan melalui langitNya yang indah. Jangan mengutuk hujan, tanpa hujan kita tidak bisa hidup karena hujan itu bisa menyirami sawah tempat padi ditanam. Tanpa hujan kita akan kekeringan. Kalau ada yang harus dikutuk, kutuklah perilaku masyarakat yang aktif memproduksi sampah, yang masih suka membuang sambah sembarangan terutama di sungai, yang masih belum punya kesadaran menjaga alam ini. 

Jangan mengambinghitamkan berkah Tuhan untuk kebiasaan buruk manusia.

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright leniwijayanti.com. Powered by Blogger.