Monday, June 29, 2015

Yogyakarta


 Pulang ke kotamu. Ada setangkup haru dalam rindu. Masih seperti dulu. Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna 

Pagi ini saat berangkat kerja, lagu Yogyakarta dari Kla Project mengalun lembut dari radio yang sedang aku dengar. Sesaat dalam otakku seperti ada proyektor dan layar tancap menanyangkan perjalanan singkatku di Yofyakarta dan membuatku tersenyum. 

Sampai di kantor, aku dapet notifikasi on the day dari facebook. Ternyata tepat hari ini, 13 tahun silam aku pindah ke Yogyakarta untuk bersekolah di SMA Santa Maria

Pada dasarnya hari hari pertama aku tinggal di sana bukanlah hari yang menyenangkan buatku. Sempat masuk asrama sekolah namun kemudian keluar karna alasan tertentu kemudian memilih ngekos di kos putri deket sekolah. 

Aku dibesarkan di sebuah kampung yang tak jauh dari pantai. Di kecamatan yang tidak terlalu besar dengan bangunan tak lebih dari 3 lantai.  Saat tiba di Yogyakarta aku begitu kagum dengan kota besar ini dengan jalan layang serta gedung pencakar langit yang tidak ada di Bali, di Denpasar sekalipun karena memang tidak diperbolehkan oleh pemerintah daerah.

Di Yogyakarta aku bersekolah di SMA Santa Maria (Stama). Stama itu sekolah yang menyenangkan walaupun isinya hanya siswi. Awalnya bersekolah di sekolah yang khusus putri ini merupakan ide aneh, kan jadi nggak bisa tebar pesona sama putra berseragam abu-abu. Namun di Stama juga, kami diajarkan untuk mandiri, mengerjakan pekerjaan yang biasanya kita labeli sebagai pekerjaan siswa putra. 

Selama 3 tahun tinggal di Yogyakarta, sebenarnya tidak banyak hal aku lalui, mungkin karena aku cenderung menarik diri dari lingkungan sekitar sehingga tidak begitu banyak mempunyai teman. Ya aku memang bukan tipe orang yang mudah berteman.

Prestasiku di sekolah juga bukanlah prestasi luar biasa, selalu saja ada angka 5 kebawah yang tersenyum kepadaku setiap mengambil rapor. Untungnya angka-angka itu masih ditulis dengan tinta hitam bukan merah. Duh bakal serem banget keliatannya kalo merah ya hahaha... 

Yah secara garis besar pada saat tinggal di Yogyakarta aku merasa tidak kerasan. Sampai pernah suatu waktu aku sedang dalam taxi dan pengemudi taxi menanyakan asalku. Aku jelaskan bahwa aku dari Bali dan sedang bersekolah di Stama, kemudian mengalir cerita tentang betapa tidak bahagianya aku di Yogyakarta. Bapak pemgemudi Taxi yang sampai sekarang aku gak pernah inget bagaimana wajahnya atau namanya membalas dengan tertawa kecil. Kemudian berkata "Nak, saat ini mungkin gak ngerasa betah di Yogyakarta, tapi nanti saat nak balik ke Bali, nak akan merindukan Yogyakarta dan ingin kembali ke sini.  Percaya sama bapak." Pada saat itu aku memang gak percaya bahwa aku akan merindukan kota ini. 

Kemudian sekolahku selesai dan aku melanjutkan kuliah di Universitas Udayana di Denpasar. Walaupun aku merasa senang bisa kembali ke Bali tapi memang tersisa sedikit kepedihan meninggalkan kota ini. 

Bertahun-tahun berlalu dan ternyata memang benar apa kata pengemudi taxi itu, aku merindukan Yogyakarta. Walaupun tidak banyak kenangan indah di sana namun aku ingin selalu mengunjunginya kembali. Menikmati suasana malam di Malioboro atau udara sejuk di Kaliurang. Menjelajahi Yogyakarta dengen bis kota. Yogyakarta, suatu saat nanti aku akan kembali menelusuri setiap sudut kotamu.

Tuesday, June 23, 2015

Good Bye Comfort Zone



Jadi selama ini aku terlalu betah berada di comfort zone. Selama bertahun-tahun aku tidak bergerak sedikit pun dari comfort zone itu. Hal tersebut menyebabkan aku menjadi tidak peduli atas apapun kata orang terhadap kondisiku. Aku terlahir dengan gen gemuk, tipe badan yang memiliki metabolisme kurang baik sehingga apapun yang aku makan walaupun sedikit akan menumpuk menjadi lemak.

Aku bahkan tidak pernah merasakan kurus. Aku tidak pernah merasa mudah untuk membeli pakaian, saat aku kecil pun pakaian yang aku gunakan adalah pakaian ukuran orang dewasa sehingga membuatku jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Aku sering dibully, dikatain gendut, jelek, gajah bengkak atau pura-pura terjadi gempa saat aku berjalan melewati mereka. Buat mereka hal itu lucu, aku cuma bisa senyum miris tapi menangis dalam hati.

Saking seringnya diperlakukan demikian aku menjadi terbiasa dengan segala macam ejekan dan memilih untuk mengabaikan mereka dengan bersembunyi di balik pepatah biarkan anjing mengonggong, Leni tetap berlalu. Aku percaya aku akan menajdi sukses tanpa harus menjadi kurus.

Kemudian waktu menjawabnya dan jawaban itu bukanlah seperti yang aku pikirkan. Aku masik gemuk dan aku tidak sukses. Aku terjebak dalam situasi dimana aku tidak bisa maju juga sulit untuk mundur. Aku berusaha mencari pekerjaan yang lebih baik lagi namun selalu terhalang oleh kriteria tinggi dan berat badan ideal. Bahkan walaupun itu bukan syarat utama, itu menjadi pertimbangan yang cukup besar pada setiap pekerjaan.

Stereotype orang gendut adalah pemalas, bukan pekerja keras dan hanya akan merugikan perusahaan. Padahal aku adalah tipe pekerja yang rela lembur demi menyelesaikan pekerjaan bahkan ketika tanpa uang lembur sekalipun. Tapi aku tidak bisa menunjukkan loyalitasku karena aku tidak diterima bekerja berdasarkan penilaian mereka bahwa orang gendut itu pemalas.

Aku bahkan tidak keluar dari comfort zone saat mengetahui dimana kedua orang tuaku terkena diabet dan sudah hampir bisa dipastikan aku dikemudian hari akan terkena diabetes juga apabila aku tidak mulai menjaga pola makan serta menurunkan berat badanku.

Keluar dari comfort zone itu susah. Susah sekali. Aku pernah mencoba OCD 2013 silam, berhasil namun kemudian aku digoda lagi oleh comfort zone terkutuk itu. Aku mencoba untuk keluar dari comfort zone lagi awal tahun 2015 ini, namun aku malah terjebak dalam pola pikir "ah aku mau diet besok jadi aku akan makan enak sepuasnya hari ini" aku berpikir seperti itu hampir setiap hari dalam 6 bulan. Hasilnya bisa ditebak, beratku bukannya turun malah naik naik naik dan naik lagi. Ah daripada aku sebut comfort zone sepertinya lebih tepat bila aku bilang itu adalah lingkarang setan atau musang berbulu domba.

Aku benci dengan diriku sendiri. Aku benci dengan kenyataan bahwa aku sangat lemah untuk menepati janjiku pada diriku untuk memulai gaya hidup sehat. Hingga pada akhirnya, menjelang ulang tahunku pertengahan Juni lalu, aku bertekat untuk berubah. Aku mulai bergabung di gym club khusus wanita. Bulan pertama aku lalui dan ternyata beratku bukannya turun malah naik, ternyata pola makanku lah yang harus benar-benar dirubah.

Aku mulai merubah pola makanku sejak beberapa hari lalu, aku mengikuti program diet mayo. untuk hasil dan testimoni mengenai diet mayo ini nanti akan aku tulis setelah 13 hari terlewati. Sekarang aku akan mengucapkan selamat tinggal pada lingkaran setan itu, dengan tekat ini semoga aku tidak pernah sekalipun tergoda untuk kembali. Sudah cukup aku menelantarkan tubuhku, kini aku harus mulai untuk menyayangi tubuhku ini. Doakan aku berhasil ya ^^.

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright leniwijayanti.com. Powered by Blogger.