Thursday, August 27, 2015

Aku Beruntung karena Memilikinya

"waaah kamu beruntung banget Len!" kalimat itu atau yang serupa dengan itu terlalu sering aku dengar hampir 4 tahun belakangan ini ketika lawan bicaraku yang semuanya wanita tahu kalau aku pacaran sama orang Korea. Mereka tau entah setelah ngobrol denganku atau dari baca blog ini. Entahlah. Aku tidak tau kenapa mereka menilaiku beruntung punya pasangan orang Korea. Padahal jangankan mengenal pasanganku itu, mengenalku saja mungkin mereka tidak.

Sepertinya mereka hanya melihat dari luaran bahwa aku beruntung karna dia orang Korea. Aku gak tau kenapa aku harus merasa beruntung hanya karna dia orang Korea? Padahal tidak selamanya pacaran sama orang Korea itu seindah romantika dalam drama mereka. Aku dan dia bisa dibilang bukanlah pasangan yang kehidupan percintaannya penuh dengan romantisme manis yang bikin resiko diabetesku meningkat tajam. 

Kehidupan percintaan kami malah penuh liku dan juga bukan hal yang mudah untuk kami jalani. Kami bertarung dengan ego serta cita-cita kami untuk tetap bersama. Sepanjang hidupku ini adalah hubungan tersulit yang pernah aku jalani. Bahkan masalah itu tidak hanya datang dari kami berdua tapi juga dari pihak luar yang entah sudah berapa orang yang menyarankanku (dan mungkin dia)  untuk mengakhiri hubungan kami ini.

Pada akhirnya aku memang setuju pada mereka, aku memang beruntung tapi keberuntunganku itu bukanlah karena dia orang Korea, keberuntunganku adalah aku menemukan orang yang mencintaiku seperti aku mencintainya dan juga aku beruntung karena dia tetap bertahan meskipun kami tengah dalam situasi sulit serta tidak pernah sekalipun dia berkeinginan untuk menyerah. Walaupun seandainya dia bukan orang Korea, aku akan tetap bilang pada kalian semua bahwa aku beruntung memilikinya.

Monday, August 03, 2015

Mantan Terindah


Mantan. Entah kenapa hari ini aku ingin ngebahas mantan. Umm kalau bisa aku definisikan, mantan adalah sekelompok orang (karna mantanku lebih dari 1 hehe) yang pernah aku anggap sebagai yang nomor satu dan satu-satunya. Memang benar saat itu mungkin menjadi yang nomor satu dan satu-satunya namun sayangnya bukan menjadi yang terakhir.

Beberapa diantara sekelompok mantan itu ada yang meninggalkan kebencian, ada yang tidak meninggalkan kesan sedikit pun namun ada juga yang patut aku labeli sebagai mantan terindah. Aku mengenalnya hampir 10 tahun silam, menjalin hubungan dengannya sekitar 3 tahun, kemudian semua itu kandas. Aku memintanya untuk mengakhiri hubungan kami pada saat itu, dia memintaku untuk berfikir ulang namun aku sudah merasa cukup matang dengan keputusanku. Setelah kami putus, ada banyak yang menanyakan alasanku menyudahi hubungan dengan pria sebaik dia.

Tahun 2010, aku lupa bulan apa, mungkin sekitar pertengahan tahun, kami kembali bertemu tanpa sengaja. Setahuku saat itu dia sudah memiliki pacar namun entah kenapa dia kembali mendekatiku, bahkan memintaku untuk melanjutkan rencana kami yang gagal karna aku meminta putus, rencana menikah. Aku coba untuk kembali jalan dengannya. Sebatas jalan dan pergi makan berdua tanpa menegaskan apa label yang tepat untuk hubungan kami itu. 

Hampir sebulan lamanya, awalnya aku ngerasa nyaman, apalagi dia adalah pria yang sangat memanjakan pasangannya dengan makanan enak yang menjadi kelemahanku. Namun itu hanya bertahan seminggu pertama, setelah itu aku mulai ilfil dan kemudian komunikasi kami terputus begitu saja. Buatku mantan itu ibarat novel yang sudah pernah kita baca, bagaimana pun cara kita membacanya selalu berakhir pada akhir yang sama.

Sekarang ini, kadang aku masih mengingatnya, mengingat kenangan kami dulu namun tidak terbesit untuk kembali ke pelukannya kalau ada kesempatan. Aku gak tau lagi kabarnya gimana. Kadang aku masih mengenangnya, tersenyum saat aku melewati atau datang ke tempat yang pernah kami datangi, sebatas itu saja karna kini cintaku sepenuhnya untuk oppa :)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright leniwijayanti.com. Powered by Blogger.