Wednesday, September 23, 2015

Sabar itu Memang ada Batasnya

Sebagai makhluk sosial kita akan selalu bertemu, berinteraksi dengan berbagai macam jenis manusia. Iya manusia itu ada beberapa jenis, ada jenis cuek, jenis kepo, jenis penggosip, jenis tukang kompor dan jenis lainnya. Kalau aku sih kayaknya termasuk tipe yang gak pedulian sama orang lain dan juga omongan orang lain. 
Aku gak pernah ambil pusing ketika orang lain lagi dan lagi nanya kapan aku menikah. Biasanya aku cuma jelasin secara singkat ya karna memang belum tiba waktunya atau aku jawab hanya dengan terkekeh-kekeh tanpa memberikan jawaban yang jelas. Aku lebih memilih membiarkannya berlalu dan menunggu mereka bosan bertanya.
Namun ada saatnya ketika pertanyaan, sindiran, anjuran untuk segera menikah itu diucapkan lagi dan lagi. Belakangan ini memang masalah pernikahan terus-terusan dibahas karena kedatangan oppa beberapa hari lalu. Hampir setiap hari ada saja pertanyaan tentang kapan kami menikah muncul sehingga membuatku agak sedikit hmmm muak. 
Hari ini, di kantor, aku membalas ketus ketika aku mulai merasa dipojokkan dengan masalah ini, aku berucap "Inget loh ibu punya anak cewek, ibu belum tau nanti dia seperti apa, sekarang ibu giniin saya nanti kalau anak ibu yang seperti saya atau bahkan tidak menikah bagaimana? Nanti malu lgo kalo ketemu saya. " setelah mengucapkan itu ada sedikit perasaan menyesal. Seharusnya aku tidak berkata seperti itu pada orang yang lebih tua. Kenapa kesabaranku tidak seluas samudera? 
Pernikahan bukan masalah duluan atau belakangan, siapa cepat dia menang tapi masalah menghabiskan sisa hidup dengan seseorang yang memang berarti untuk kita. Banyak yang menilai aku terlalu idealis, keras kepala, tapi itu tidak sepenuhnya benar. Aku tidak mau mengorbankan kebahagiaanku demi memuaskan mulut-mulut usil orang lain karena aku tau mereka tidak akan pernah puas. Selalu akan ada pertanyaan kapan kapan lainnya. 
Well, aku tau maksud mereka baik, mereka tidak bermaksud buruk dengan apapun yang mereka katakan, namun aku mulai lelah mendengarnya, bahkan pernah sampai ngebuat aku males ngomong di kantor. Aku dan oppa, kami punya alasan kenapa kami belum menikah tapi kami tidak mungkin menjelaskan masalah kami pada setiap orang yang kami temui. Aku rasa cukup, aku, dia dan keluarga kami yang mengetahuinya.

2 comments:

  1. Msh mendingan loh jawaban kamu... Aku malah pernah kepikiran,"Nanya2 mlulu... Situ kan gak saya undang!" Tp gak jadi sih jawab itu. Soalnya kl buat aku, kasian ortu yg jd kepikiran setiap kali denger pertanyaan itu... *hugs*

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener ya.. sebenernya ortu sendiri jarang nanya masalah itu, kalo kata ibuku itu gak pantes ditanyain terlalu sering bahkan ke anak sendiri. belakangan ini si temen kantor ini udah gak pernah nyinggung masalah itu lagi :)) kapok kali ya

      Delete

Feel free to SHARE this post with friends and family on your social media.

Don't forget to leave your thoughts in the comments section, I would love to hear from you :)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright leniwijayanti.com. Powered by Blogger.