Monday, March 07, 2016

Ogoh-ogoh Styrofoam

Dalam beberapa hari kedepan, umat Hindu akan menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1938. Hari Raya Nyepi jatuh pada hari pertama sasih kedasa (kalender Bali) atau sekitar bulan Maret dan April. Untuk lebih lengkapnya, aku pernah nulis tentang Nyepi di sini.
Ngomongin Hari Raya Nyepi, nggak akan pernah lepas dari yang namanya ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh merupakan karya seni yang menggambarkan kepribadian butha kala, biasanya digambarkan menyerupai raksasa. Namun seiring perkembangan waktu, wujud dari ogoh-ogoh tidak selalu berupa raksasa, ada juga berupa hal-hal buruk yang terjadi di tahun tersebut. Misalnya pernah ada ogoh-ogoh berbentuk Gayus Tambunan saan yang bersangkutan sedang heboh-hebohnya di media massa.

Tidak hanya bentuknya yang mengalami perubahan, bahan baku pembuatan ogoh-ogoh pun mulai mengikuti perkembangan jaman. Dari yang paling sederhana menggunakan bambu yang diiris kemudian dibentuk dan dilapisi kertas bekas kemudian mulai menggunakan styrofoam. Awalnya styrofoam hanya digunakan untuk bentuk kaki dan tangan kemudian juga kepala dan sekarang malah hampir semua bagian dari ogoh-ogoh itu menggunakan styrofoam.

Styrofoam digunakan karena proses pengerjaannya yang lebih mudah ketimbang menggunakan lembaran bambu yang dianyam. Selain itu juga karena hasil akhir yang jauh lebih bagus dan otomatis akan lebih membanggakan saat diarak dalam pawai ogoh-ogoh sehari sebelum Hari Raya Nyepi.

Namun penggunaan styrofoam pada akhirnya malah menimbulkan efek negatif terutama pada lingkugan. Bila dibandingkan dengan anyaman bambu, maka styrofoam bukanlah pilihan yang ramah lingkungan. Styrofoam tidak dapat diurai oleh alam, kalaupun bisa itu butuh waktu yang sangaaaaaat lama. Styrofoam yang terbawa ke laut pun akan mengganggu ekosistem dan biota laut. Bahkan menurut data EPA (Enviromental Protection Agency) di tahun 1986 dalam proses pembuatan (termasuk daur ulang sampah styrofoam menjadi styrofoam baru) styrofoam pun menimbulkan limbah berbahaya.

Aku pikir salah satu tujuan Nyepi adalah untuk mengembalikan fungsi alam, membangun ''hubungan baik" antara manusia dengan alam serta mengistirahatkan alam dari segala polusi. Namun efek negatif yang ditimbulkan oleh penggunaan styrofoam pada ogoh-ogoh malah berbanding terbalik dengan tujuan tersebut.

Yuk, kita mulai kurangi penggunaan styrofoam untuk ogoh-ogoh. Bila tidak belum bisa sepenuhnya kembali pada anyaman bambu setidaknya meminimalkan penggunaannya untuk kebaikan kita semua.

No comments:

Post a Comment

Feel free to SHARE this post with friends and family on your social media.

Don't forget to leave your thoughts in the comments section, I would love to hear from you :)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright leniwijayanti.com. Powered by Blogger.