Saturday, January 21, 2017

[Film Review] 12 Angry Men 1957

Berbeda dengan di Indonesia, di Amerika setiap orang yang dituduh melakukan kejahatan dengan acaman hukuman di atas enam bulan memperoleh hak konstitusional untuk mendapat pengadilan oleh juri. Juri biasanya terdiri dari 12 orang dan kebanyakan negara bagian menghendaki keputusan bulat dari para juri. Kali ini aku tidak akan membahas secara mendetail mengenai sistem peradilan di Amerika Serikat, namun aku akan membahas film lawas yang mengambil tema ini.

Judul filmnya ada “12 Angry Men”. Film ini merupakan film drama Amerika yang diproduksi tahun 1957 oleh Reginald Rose dan Henry Fonda. Film ini menceritakan tentang  12 pria yang bertindak sebagai juri di persidangan seorang anak 18 tahun yang dituduh telah melakukan pembunuhan berencana terhadap ayahnya. Fakta-fakta di persidangan secara gamblang mengarah bahwa si anak bersalah.

Pada saat melakukan voting, 11 juri menyetujui bahwa anak tersebut bersalah, namun juri #8 meragukannya. Juri lainnya merasa marah kepada juri #8 karena walaupun terdapat 1 orang yang berbeda pendapat mereka harus melanjutkan musyawarah hingga mendapat keputusan yang bulat. Beberapa juri ‘memaksa’ juri #8 untuk setuju bahwa anak itu bersalah agar mereka bisa kembali pulang dan melanjutkan aktifitas mereka, namun juri #8 tetap bersikukuh pada pendiriannya.

Seiring berjalannya waktu, juri #8 terus mengungkapkan alasan dibalik keraguannya bahwa anak tersebut bersalah. Ketika seluruh fakta di persidangan diuntai, terdapat banyak celah kosong yang menyebabkan juri-juri lainnya pun mulai meragukan keputusan mereka dan balik mendukung juri #8.

Untuk ukuran film tahun 1957, film ini termasuk luar biasa. Apalagi 95% lokasinya hanya di ruangan dengan toilet, 1 meja, 12 kursi, 1 galon air dan 1 kipas angin yang awalnya dikira rusak karena tidak bisa menyala. Dialog-dialognya cerdas dan bikin betah nonton film yang berdurasi 01:36:21 ini. Para tokoh di film ini lebih dikenal dengan sebutan juri #1, juri #2, juri #3 dan seterusnya.

Cerita tidak berfokus pada siapa pelaku pembunuhan yang sebenarnya tapi berfokus pada proses pengambilan keputusan berdasarkan penggalian lebih dalam terhadap fakta yang muncul di pengadilan yang tidak boleh diabaikan karena keputusan para juri menyangkut nyawa seseorang. Keputusan mengenai hidup mati seseorang haruslah dipikirkan dengan matang, jangan hanya berdasarkan prasangka, rasis atau kepentingan pribadi.

Film ini bisa membuktikan bahwa membuat film bagus bisa dilakukan hanya dengan cerita sederhana, berlokasi di 1 ruangan, tanpa visual effect, tanpa ada wanita seksi dan tanpa kucing. Tentu saja karena skenario yang menawan dan para pemain yang bisa memerankan para tokohnya dengan baik. Film ini juga dibuat remakenya, tapi aku nggak tau apakah lebih baik atau lebih buruk dari versi original ini.


My rate : 10/10

No comments:

Post a Comment

Feel free to SHARE this post with friends and family on your social media.

Don't forget to leave your thoughts in the comments section, I would love to hear from you :)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright leniwijayanti.com. Powered by Blogger.