Sunday, June 11, 2017

Menyikapi Pertanyaan "Kapan?"


Pertanyaan “kapan” seolah menjadi pertanyaan yang tidak akan pernah ada habisnya. Pertanyaan “kapan” biasanya dimulai saat semester akhir perkuliahan. “Kapan lulus?” kemudian berlanjut dengan “Kapan kerja?” lalu menjadi “Kapan menikah?”, “Kapan punya anak?”, “Kapan nambah anak?” dan kapan kapan lainnya. Mungkin hanya satu yang tidak berani ditanyakan “Kapan mati?”.

Aku hampir yakin sembilan puluh sembilan persen warga Indonesia pasti pernah mendapat pertanyaan ini, sebagian tidak ambil pusing atau bisa dengan mudah menjawabnya namun sebagian besar lainnya menjadi depresi hanya dengan pertanyaan “kapan?”

Beberapa temanku malah memutuskan untuk memblokir mereka yang menanyakan pertanyaan maut itu tanpa padang bulu. Namun hal tersebut tentu hanya bisa kita lakukan di sosial media. Lantas bagaimana dengan di kehidupan nyata?

Ada banyak yang mengaku bahwa demi menghindari pertanyaan “kapan”, mereka terpaksa mengurangi frekuensi bertemu dengan orang lain, terutama keluarga besar. Momen hari raya yang biasa digunakan untuk bersilahturahmi pun akan menjadi momen menakutkan. Aku akui bahwa aku salah satunya. Pertanyaan “kapan menikah?” adalah hal yang membuatku sangat tidak nyaman. Beberapa pertemuan keluarga terpaksa aku hindari dan kalaupun aku harus datang aku akan menjauh dari semuanya. Aku juga merasa malas untuk bertemu teman-teman lama karna pertanyaan “kapan” seolah menjadi pertanyaan wajib mereka.

Pada dasarnya aku tidak keberatan ditanyai “kapan menikah?” yang aku enggan dengar adalah perkataan selanjutnya. “kenapa kok belum nikah padahal sudah 5 tahun pacaran?” “kenapa kamu masih bertahan dengannya?” “kenapa tidak meninggalkannya saja dan mencari pria lain?” semua itu kalau aku jawab dengan akan membutuhkan waktu seharian penuh untuk menjabarkan tapi aku tidak ingin melakukannya karena aku punya alasan yang cukup aku ketahui sendiri saja.

Dahulu aku akan memusuhi siapapun yang berani menanyakan pertanyaan itu. Namun kini sudah tidak lagi. Aku mulai menikmati pertemuan keluarga dan reuni bersama teman-teman serta bertemu dengan orang-orang baru. Aku akan membagi pada kamu bagaimana caraku menghadapi pertanyaan “kapan”.

Kalau ada yang menananyakan “kapan” jawab saja “mohon doa yang terbaik” sambil tersenyum. Sepengalaman aku itu menjadi jawaban yang sangat tepat agar orang lain tidak menanyakan pertanyaan serupa atau pertanyaan “kapan” lainnya.

Jangan pernah memandang mereka yang bertanya “kapan” sebagai musuh karena hal tersebut akan membuat kita berfikiran negatif dan tentu saja pikiran negatif tidak akan mendatangkan hal positif kan?. Pandang mereka sebagai orang yang mencintaimu dan selalu berdoa yang terbaik buat kamu disela-sela kekepoan mereka terhadap hidupmu.

Selalu terbuka dengan segala masukan. Terkadang kita perlu pendapat kedua, ketiga, keempat, keseratus dari orang lain. Ucapkan terima kasih pada mereka dan kamu tidak harus melakukan semua pendapat dari orang lain itu. Jika baik gunakan, jika menurutmu tidak baik atau tidak sesuai untukmu maka abaikan.

Pada intinya kamu harus berusaha untuk selalu positif dan tidak berprasangka buruk pada orang lain. Orang lain, siapapun mereka, sekepo apapun mereka terhadap hidup kamu anggap itu adalah bentuk sayang mereka padamu walaupun mungkin beberapa diantaranya akan menjadikan hidupmu sebagai lelucon atau bahan nyinyir. Ini bukan hal yang gampang tapi juga bukan hal yang mustahil untuk dilakukan. Be positive, be happy. Ingat bahwa kita berhak bahagia dan bersyukur terhadap hidup kita seburuk apapun hidup kita di mata orang lain.

Terakhir, jangan mendesak orang lain bahkan menyudutkan dengan pertanyaan “kapan”. Seringkali walaupun kita tidak suka ditanya “kapan”  namun kita suka menanyakan “kapan” kepada orang lain. Jangan mencubit bila tak mau dicubit, perlakukan orang lain dengan baik seperti bagaimana kamu ingin orang lain memperlakukanmu.

Berhenti mencampuri urusan orang lain dengan pertanyaan yang menurut kamu sepele namun sangat berat dijawab oleh orang lain. Kita tidak pernah mengetahui apapun alasan dibalik keputusan atau pilihan hidup orang lain kan jadi siapa kita yang bisa menilai kehidupan orang lain seenakudelnya


Apakah tulisan ini bisa mambantumu? Atau mungkin kamu memiliki cara lainnya? Beritahukan padaku dan mereka yang nyasar di sini. Bagikan hal positif pada orang lain melalui kolom komentar J

6 comments:

  1. mantap, setuju, jangan mencampuri urusan orang lain yang kita kira sepele tapi tidak buat orang yang kita intervensi itu. Cara menyikapi pertanyaan kapan yang ada unsur "mencampuri hidup orang lain" adalah dengan menjawab --> kapan-kapan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. "kapan kapan" emang jawaban paling singkat dan simpel :))

      Delete
  2. Iya mbk kadang orang gak ngerti (atau memang pura2 gak ngerti ya) kalau ada pertanyaan2 yg seharusnya gak usah ditanyakan, bisa menyinggung orang lain. Seperti..kapan kurus? *eehh itu pertanyaan buat saya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. duh mba kalo kapan kurus sih itu pertanyaan abadi yang tidak akan pernah terjawab hahaha... makasi sudah mampir

      Delete
  3. Nanti kl udah merit mereka akan lanjut dg pertanyaan: kapan punya anak? kapan ada adeknya? krn mereka simply gak tau bahan obrolan lain :))))

    ReplyDelete
    Replies
    1. kadang mereka nanya itu karna pingin ngetawain hidup orang lain yang dia anggap menyedihkan. kadang loh. kadang sih emang tulus nanyanya..

      Delete

Feel free to SHARE this post with friends and family on your social media.

Don't forget to leave your thoughts in the comments section, I would love to hear from you :)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright leniwijayanti.com. Powered by Blogger.